Saham dengan Dividend Yield Tinggi, Ini yang Perlu Diperhatikan

dimsam

RaftenInfo.com – JakartaSaham dengan dividend yield tinggi kembali menjadi perhatian investor ketika musim pembagian dividen berlangsung. Imbal hasil dividen dapat menjadi sumber pendapatan tambahan dari investasi saham.

Dividend yield menunjukkan perbandingan dividen yang diterima investor dengan harga saham. Semakin tinggi yield, semakin besar potensi pendapatan dividen dibandingkan modal yang digunakan.

Namun, angka yield yang tinggi tidak otomatis membuat sebuah saham menarik. Yield bisa melonjak karena perusahaan membagikan dividen besar. Bisa juga karena harga saham turun cukup dalam.

Karena itu, investor perlu melihat lebih banyak indikator. Kinerja laba, arus kas, payout ratio, riwayat pembagian dividen, dan prospek bisnis perlu diperhatikan sebelum membeli saham.

Apa Itu Dividend Yield?

Dividend yield merupakan rasio yang menunjukkan besarnya dividen terhadap harga saham.

Perhitungannya cukup sederhana:

Dividend Yield = Dividen per Saham ÷ Harga Saham × 100%

Sebagai contoh, sebuah perusahaan membagikan dividen Rp100 per saham. Jika harga sahamnya Rp2.000, dividend yield mencapai 5 persen.

Artinya, secara sederhana investor memperoleh potensi imbal hasil dividen sebesar 5 persen dari harga saham tersebut. Perhitungan ini belum memasukkan pajak dan perubahan harga saham.

Yield juga dapat berubah setiap hari karena harga saham bergerak.

Misalnya, dividen tetap Rp100. Ketika harga turun dari Rp2.000 menjadi Rp1.600, yield secara matematis naik menjadi 6,25 persen.

Inilah alasan investor tidak boleh melihat yield tanpa memahami penyebabnya.

Saham dengan Dividend Yield Tinggi yang Banyak Diperhatikan

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia dikenal memiliki rekam jejak pembagian dividen yang menarik.

Data yang dihimpun pada 2026 menunjukkan beberapa nama dari sektor pertambangan, perbankan, energi, dan multifungsi memiliki yield relatif tinggi.

Beberapa contoh yang sering menjadi perhatian antara lain:

  • PTBA — dikenal memiliki riwayat pembagian dividen besar.
  • ITMG — memiliki sejarah pembagian dividen yang relatif tinggi.
  • ADRO — termasuk emiten yang rutin menjadi perhatian investor dividen.
  • BBRI — perbankan dengan sejarah pembagian dividen.
  • ASII — memiliki bisnis terdiversifikasi dan rutin membagikan dividen.
  • TLKM — menjadi salah satu emiten besar yang sering diperhatikan investor pendapatan.
  • UNTR — memiliki rekam jejak pembagian dividen dan bisnis yang cukup beragam.

Daftar tersebut bukan rekomendasi membeli saham. Dividend yield juga berubah mengikuti harga saham dan kebijakan dividen perusahaan.

Data pada April 2026, misalnya, mencatat yield pembagian terakhir PTBA sekitar 11,25 persen dan ITMG sekitar 10,84 persen. BBRI berada sekitar 10,32 persen dalam daftar yang sama.

Sementara itu, daftar konstituen IDX High Dividend 20 periode Agustus hingga November 2026 juga mencakup sejumlah perusahaan besar dari sektor perbankan, energi, pertambangan, ritel, dan telekomunikasi.

Mengapa Dividend Yield Bisa Tinggi?

Ada beberapa alasan sebuah saham mempunyai dividend yield tinggi.

Pertama, perusahaan memang membagikan dividen dalam jumlah besar. Kondisi ini biasanya didukung laba dan arus kas yang kuat.

Kedua, harga saham mengalami penurunan. Karena rumus yield menggunakan harga saham sebagai pembagi, penurunan harga otomatis membuat yield terlihat lebih tinggi.

Ketiga, perusahaan mungkin membagikan dividen khusus. Dividen tersebut dapat berasal dari kondisi tertentu dan belum tentu berulang pada tahun berikutnya.

Karena itu, investor perlu membedakan yield yang berkelanjutan dengan yield yang hanya terlihat tinggi sementara.

Cara Memilih Saham dengan Dividend Yield Tinggi

1. Periksa Riwayat Dividen

Riwayat pembayaran dividen menjadi salah satu indikator penting.

Perusahaan yang rutin membagikan dividen selama bertahun-tahun menunjukkan komitmen terhadap pemegang saham.

Namun, konsistensi tetap perlu dibandingkan dengan kondisi laba.

Perusahaan dapat membagikan dividen besar pada satu tahun tertentu. Akan tetapi, pembayaran tersebut belum tentu berulang.

Karena itu, lihat riwayat setidaknya beberapa tahun.

Perhatikan juga apakah nilai dividen cenderung stabil, meningkat, atau sangat fluktuatif.

2. Perhatikan Payout Ratio

Payout ratio menunjukkan berapa bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham.

Misalnya, perusahaan memperoleh laba Rp1 triliun dan membagikan Rp500 miliar sebagai dividen.

Payout ratio perusahaan tersebut mencapai 50 persen.

Payout ratio yang terlalu tinggi perlu dicermati.

Jika perusahaan terus membagikan hampir seluruh labanya, ruang untuk ekspansi bisnis dapat menjadi lebih terbatas.

Namun, payout ratio tinggi tidak selalu buruk.

Perusahaan yang sudah matang dan memiliki kebutuhan belanja modal rendah mungkin memang mampu membagikan sebagian besar labanya.

3. Periksa Arus Kas

Laba bersih bukan satu-satunya indikator kemampuan membayar dividen.

Arus kas juga penting.

Dividen membutuhkan uang tunai. Karena itu, investor perlu melihat apakah perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan operasional.

Jika perusahaan terlihat mencatat laba besar tetapi arus kas operasionalnya lemah, investor perlu lebih berhati-hati.

Kondisi tersebut dapat membuat keberlanjutan dividen menjadi kurang meyakinkan.

4. Perhatikan Utang

Utang perusahaan juga perlu diperiksa.

Perusahaan dengan beban utang besar mungkin memiliki kebutuhan kas yang tinggi.

Jika sebagian besar kas digunakan untuk membayar kewajiban, ruang pembagian dividen dapat berkurang.

Karena itu, investor sebaiknya melihat rasio utang, biaya bunga, serta kemampuan perusahaan menghasilkan kas.

5. Kenali Sektor Bisnisnya

Sektor bisnis sangat memengaruhi karakter dividen.

Perusahaan komoditas, misalnya, dapat memberikan dividen besar ketika harga komoditas dan laba sedang tinggi.

Namun, kondisi tersebut dapat berubah ketika siklus komoditas berbalik.

Data dan pandangan analis pada 2026 juga menunjukkan saham komoditas dan perbankan menjadi kelompok yang sering menghasilkan dividend yield tinggi. Namun, yield tinggi pada sektor komoditas biasanya disertai volatilitas yang lebih besar.

Karena itu, investor perlu memahami siklus bisnis sebelum mengejar dividen.

Jangan Terjebak Dividend Yield yang Terlalu Tinggi

Dividend yield tinggi memang terlihat menarik.

Namun, angka yang terlalu tinggi justru perlu diperiksa lebih dalam.

Misalnya, sebuah saham sebelumnya diperdagangkan Rp2.000. Perusahaan membayar dividen Rp100.

Yield-nya mencapai 5 persen.

Kemudian harga saham turun menjadi Rp1.000. Secara matematis, yield berdasarkan dividen sebelumnya menjadi 10 persen.

Angka tersebut terlihat sangat menarik.

Namun, penurunan harga hingga 50 persen tentu menjadi masalah bagi investor.

Kerugian harga saham dapat jauh lebih besar daripada dividen yang diterima.

Karena itu, jangan mengejar saham hanya karena melihat yield dua digit.

Periksa terlebih dahulu mengapa harga saham turun.

Perhatikan Dividend Trap

Dividend trap merupakan kondisi ketika investor tertarik membeli saham karena yield terlihat tinggi, tetapi kemudian menghadapi penurunan harga atau dividen yang tidak berkelanjutan.

Kondisi ini dapat terjadi ketika harga saham jatuh menjelang pembagian dividen.

Investor kemudian melihat yield yang sangat tinggi.

Setelah membeli, harga saham bisa kembali turun.

Dividen yang diterima belum tentu mampu menutup penurunan harga tersebut.

Karena itu, investor perlu membandingkan potensi dividen dengan risiko penurunan harga.

Jangan menganggap dividen sebagai keuntungan yang bebas risiko.

Perhatikan Ex-Date dan Cum-Date

Investor juga perlu memahami jadwal pembagian dividen.

Cum date merupakan batas terakhir perdagangan saham agar investor tercatat berhak menerima dividen sesuai ketentuan.

Sementara itu, ex-date merupakan tanggal ketika saham diperdagangkan tanpa hak atas dividen tersebut.

Informasi tersebut penting bagi investor yang mengejar dividen.

Namun, membeli saham hanya karena mengejar tanggal cum date juga memiliki risiko.

Harga saham dapat bergerak menyesuaikan setelah memasuki periode ex-date.

Karena itu, strategi dividend investing sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu tanggal.

Lebih Baik Melihat Dividend Yield atau Dividen?

Keduanya penting, tetapi memiliki fungsi berbeda.

Dividend per share menunjukkan nominal dividen yang dibayarkan untuk setiap saham.

Sementara dividend yield memperhitungkan harga saham.

Misalnya, dua perusahaan sama-sama membayar dividen Rp100.

Saham A memiliki harga Rp1.000. Yield-nya 10 persen.

Saham B memiliki harga Rp2.000. Yield-nya hanya 5 persen.

Nominal dividennya sama. Namun, yield berbeda karena harga sahamnya berbeda.

Karena itu, investor perlu melihat keduanya secara bersamaan.

Strategi Investasi Saham Dividen

Investor yang mengejar pendapatan dividen dapat menggunakan beberapa pendekatan.

Strategi pertama: fokus pada konsistensi

Pilih perusahaan yang memiliki rekam jejak dividen relatif stabil.

Strategi ini lebih menekankan keberlanjutan daripada yield tertinggi.

Strategi kedua: kombinasi yield dan pertumbuhan

Investor dapat mencari perusahaan yang membayar dividen sekaligus masih memiliki peluang pertumbuhan laba.

Dividen mungkin tidak selalu paling tinggi.

Namun, pertumbuhan laba dapat membuka peluang kenaikan dividen di masa depan.

Strategi ketiga: diversifikasi

Jangan menempatkan seluruh dana pada satu saham dividen.

Sebarkan investasi ke beberapa emiten dan sektor.

Diversifikasi dapat mengurangi risiko jika satu perusahaan mengalami penurunan laba atau memangkas dividen.

Checklist Sebelum Membeli Saham Dividen

Sebelum membeli saham dengan dividend yield tinggi, investor dapat memeriksa:

  • Berapa dividend yield berdasarkan harga terbaru?
  • Bagaimana riwayat dividen lima tahun terakhir?
  • Apakah laba perusahaan stabil?
  • Bagaimana arus kas operasional?
  • Berapa payout ratio?
  • Apakah utang perusahaan terkendali?
  • Apakah dividen berasal dari laba berulang?
  • Apakah ada dividen khusus?
  • Bagaimana prospek sektor bisnis?
  • Mengapa harga saham memiliki yield tinggi?
  • Apakah harga saham sedang dalam tren turun?
  • Bagaimana risiko setelah ex-date?
  • Apakah valuasi saham masih masuk akal?
  • Apakah saham tersebut sesuai dengan profil risiko?

Checklist tersebut membantu investor menghindari keputusan hanya berdasarkan angka yield.

Kesimpulan

Saham dengan dividend yield tinggi dapat menjadi pilihan menarik bagi investor yang mengejar pendapatan dari dividen.

Namun, yield tinggi bukan jaminan investasi yang lebih baik.

Investor perlu melihat kualitas laba, arus kas, payout ratio, utang, riwayat dividen, serta prospek bisnis.

PTBA, ITMG, ADRO, BBRI, ASII, TLKM, dan UNTR merupakan beberapa nama yang sering masuk pembahasan saham dividen di pasar Indonesia.

Meski begitu, daftar tersebut bukan berarti seluruh saham tersebut otomatis layak dibeli.

Harga saham terus berubah. Begitu pula dengan dividend yield.

Karena itu, gunakan yield sebagai titik awal analisis. Jangan menjadikannya satu-satunya alasan untuk berinvestasi.

Investor juga perlu memahami risiko penurunan harga setelah membeli saham. Dividen yang diterima belum tentu menutup kerugian jika harga saham turun cukup dalam.

Strategi yang lebih sehat adalah mencari perusahaan dengan dividen yang mampu dipertahankan dalam jangka panjang.

FAQ

Apa itu dividend yield?

Dividend yield adalah rasio yang membandingkan dividen per saham dengan harga saham. Rasio ini biasanya dinyatakan dalam persentase.

Berapa dividend yield yang dianggap tinggi?

Tidak ada batas mutlak. Yield di atas 5 persen sering dianggap menarik oleh sebagian investor, tetapi standar tersebut berbeda berdasarkan sektor dan kondisi pasar.

Apakah dividend yield tinggi berarti saham murah?

Tidak selalu. Yield bisa tinggi karena dividen besar atau karena harga saham turun. Penyebabnya perlu dianalisis terlebih dahulu.

Apa risiko membeli saham dengan yield tinggi?

Risikonya antara lain harga saham turun, dividen dipangkas, laba menurun, atau yield tinggi ternyata berasal dari dividen khusus yang tidak berulang.

Apakah saham dividen cocok untuk investasi jangka panjang?

Bisa, terutama jika perusahaan memiliki fundamental kuat dan kebijakan dividen yang berkelanjutan. Namun, investor tetap perlu menyesuaikannya dengan tujuan dan profil risiko.

Apakah saham komoditas cocok untuk mengejar dividen?

Saham komoditas dapat menawarkan yield tinggi ketika harga komoditas dan laba perusahaan mendukung. Namun, dividen dan laba dapat lebih berfluktuasi mengikuti siklus komoditas.

Penulis :

dimsam

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu