Harga HVO Rp24.000 per Liter, B60 Hadapi Beban Biaya

jaya purnama

Harga HVO Rp24.000 per Liter, B60 Hadapi Beban Biaya
Ilustrasi: Harga HVO Rp24.000 Per Liter B60 Hadapi Beban Biaya

Rafteninfo.comJAKARTA, harga HVO atau hydrotreated vegetable oil saat ini mencapai sekitar Rp24.000 per liter. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan FAME yang berada di kisaran Rp14.000 per liter.

Perbedaan harga itu menjadi perhatian dalam rencana pengembangan biodiesel B60. Pemerintah tengah mengkaji kemungkinan memasukkan 10% HVO ke dalam formula bahan bakar nabati tersebut.

Direktur Eksekutif Center for Energy Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak menilai penggunaan HVO dapat meningkatkan kualitas bahan bakar. Namun, biaya produksinya yang lebih tinggi berpotensi memperlebar beban pembiayaan program biodiesel.

Harga HVO Lebih Tinggi daripada FAME

Ali menjelaskan, harga FAME saat ini rata-rata sekitar Rp14.000 per liter. Sementara itu, harga HVO telah mencapai kisaran Rp24.000 per liter atau sekitar 1,5 hingga dua kali lipat dari FAME.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh proses produksi HVO yang lebih panjang dan kompleks. FAME masih tergolong senyawa ester yang relatif lebih mudah diproduksi, sedangkan HVO merupakan hidrokarbon murni atau parafin.

Proses pengolahan yang lebih rumit membuat HVO memiliki mutu bahan bakar lebih tinggi. Namun, keunggulan teknis itu juga membuat biaya produksinya meningkat dibandingkan FAME.

Campuran 10% HVO Bisa Memperlebar Selisih Biaya

Menurut Ali, penerapan B50 dengan komposisi 50% FAME dan 50% solar fosil masih relatif dapat dikembangkan dari sisi keekonomian. Selisih harga FAME dan solar fosil dalam skema tersebut berkisar Rp3.000 hingga Rp4.000 per liter.

Kondisinya berbeda jika pemerintah memasukkan 10% HVO ke dalam B60. Salah satu contoh formulanya terdiri atas 50% FAME, 40% solar fosil, dan 10% HVO.

Dalam skema itu, selisih harga HVO dengan FAME mencapai Rp10.000 per liter. Sementara itu, perbedaan harga HVO dan solar fosil mencapai Rp14.000 per liter.

Ali menilai pemerintah perlu menghitung ulang aspek ekonomi, termasuk pihak yang akan menanggung selisih harga tersebut.

Ia juga menyebut skema insentif melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) belum tentu memadai jika komponen HVO dipaksakan masuk ke dalam B60.

Pemerintah Masih Mengkaji Formula B60

Pemerintah menargetkan implementasi B60 mulai 2027. Program itu direncanakan mengombinasikan minyak sawit mentah atau CPO dengan HVO, dengan potensi porsi HVO sebesar 10%.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah sedang mengonsolidasikan ketersediaan bahan baku di sektor hulu. Langkah tersebut diperlukan agar pasokan CPO dapat mendukung target B60.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listyani Dewi menyatakan para peneliti masih mengkaji formula B60. Salah satu opsi yang ditelaah ialah B50 ditambah 10% HVO.

Eniya menyebut HVO telah diproduksi oleh Pertamina. Meski demikian, harganya masih relatif mahal, yakni sekitar 1,5 hingga dua kali lipat dibandingkan FAME.

Penyaluran B50 Masih Menjadi Fokus

Selain mengkaji formula dan biaya, pemerintah saat ini masih memprioritaskan pengawasan serta penuntasan distribusi B50 sebelum melanjutkan uji coba B60 secara penuh.

Penyaluran B50 di lingkungan Pertamina telah mencapai lebih dari 90%. Jika digabungkan dengan sektor non-Pertamina, rata-rata penyaluran nasional berada di kisaran 80%.

Eniya mengatakan distribusi B50 masih dalam tahap pemantauan selama dua bulan. Karena itu, keputusan mengenai formula B60 dan penggunaan HVO masih harus menunggu hasil kajian teknis, kesiapan pasokan, serta perhitungan keekonomian yang lebih matang.

Penulis :

jaya purnama

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Undangan Cashzine Terbaru 2024 Berhadiah 8000 Poin

Kode Undangan Cashzine Terbaru 2024 Berhadiah 8000 Poin

Kunjungi Artikel