RaftenInfo.com, Jakarta – Cara screening saham blue chip penting dipahami investor sebelum memilih emiten untuk dianalisis lebih lanjut. Penyaringan membantu mempersempit pilihan dari banyak saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investor tidak harus langsung membeli saham yang terlihat populer. Ada sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk menilai kualitas awal sebuah emiten.
Screening juga berbeda dengan analisis saham. Screening bertujuan menentukan saham yang layak diteliti. Sementara itu, analisis digunakan untuk menilai apakah saham tersebut menarik dibeli pada harga tertentu.
Karena itu, proses penyaringan sebaiknya dilakukan secara terukur. Ada lima kriteria yang dapat menjadi acuan, yaitu ukuran perusahaan, likuiditas, fundamental, dividen, serta struktur kepemilikan.
Cara Screening Saham Blue Chip dengan 5 Kriteria
Tidak ada definisi tunggal mengenai saham blue chip. Namun, investor umumnya mengaitkannya dengan perusahaan berkapitalisasi besar, likuid, dan memiliki fundamental kuat.
Untuk melakukan penyaringan awal, beberapa ambang batas praktis dapat digunakan. Angka tersebut bukan aturan resmi dan dapat disesuaikan dengan strategi masing-masing investor.
Lima kriteria yang dapat diperiksa meliputi:
- Kapitalisasi pasar dan status indeks.
- Likuiditas perdagangan.
- Kesehatan fundamental.
- Riwayat pembagian dividen.
- Free float dan konsentrasi kepemilikan.
Kelima indikator tersebut memberikan gambaran dari sisi ukuran, kualitas bisnis, hingga kemudahan saham diperdagangkan.
Namun, saham yang lolos seluruh kriteria belum tentu otomatis menjadi pilihan investasi. Valuasi dan kondisi pasar tetap perlu diperiksa setelah proses screening.
1. Periksa Kapitalisasi Pasar dan Status Indeks
Kapitalisasi pasar menjadi indikator pertama yang dapat digunakan. Untuk penyaringan awal, investor dapat menggunakan kapitalisasi di atas Rp50 triliun.
Selain ukuran perusahaan, status indeks juga dapat menjadi pertimbangan. Saham yang masuk LQ45 atau IDX30 umumnya memiliki karakter perdagangan yang aktif.
LQ45 terdiri dari 45 saham yang dipilih berdasarkan sejumlah faktor. Beberapa di antaranya adalah nilai transaksi, kapitalisasi pasar, frekuensi perdagangan, dan jumlah hari perdagangan.
Sementara itu, IDX30 berisi 30 saham teratas dari kelompok saham yang memenuhi kriteria tertentu. Karena itu, status indeks dapat membantu investor membuat daftar awal.
Namun, konstituen indeks tidak bersifat permanen. Bursa melakukan evaluasi secara berkala.
Saham yang mengalami penurunan likuiditas atau kapitalisasi dapat keluar dari indeks. Karena itu, status tersebut perlu diperiksa kembali setiap periode evaluasi.
2. Cek Likuiditas Perdagangan Saham
Ukuran perusahaan saja belum cukup. Investor juga perlu memastikan saham mudah diperdagangkan.
Likuiditas menunjukkan seberapa mudah investor membeli atau menjual saham tanpa memberikan dampak besar terhadap harga.
Salah satu ambang praktis yang dapat digunakan adalah nilai transaksi harian rata-rata di atas Rp50 miliar. Investor juga perlu melihat frekuensi perdagangan dan spread harga.
Spread merupakan selisih antara harga penawaran beli dan harga penawaran jual. Spread yang lebih tipis umumnya menunjukkan transaksi yang lebih efisien.
Namun, jangan menggunakan data transaksi hanya dalam satu hari. Lonjakan transaksi dapat terjadi karena berita, aksi korporasi, atau sentimen pasar.
Karena itu, rata-rata transaksi selama setidaknya tiga bulan lebih relevan. Cara ini membantu mengurangi pengaruh aktivitas perdagangan yang sifatnya sementara.
3. Perhatikan Fundamental dan Konsistensi Laba
Fundamental menjadi bagian penting dalam screening saham blue chip. Ukuran perusahaan tidak otomatis menunjukkan kualitas bisnis.
Untuk emiten non-keuangan, beberapa rasio dapat digunakan sebagai filter awal. Salah satunya adalah Return on Equity atau ROE.
ROE di atas 10% dapat menjadi salah satu ambang praktis. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.
Selain itu, investor dapat melihat Debt to Equity Ratio atau DER. Untuk emiten non-keuangan, DER di bawah 1 kali dapat digunakan sebagai acuan awal.
Konsistensi laba juga penting. Investor dapat menyaring perusahaan yang mencatatkan laba bersih positif selama lima tahun berturut-turut.
Pertumbuhan pendapatan dalam tiga tahun terakhir juga dapat menjadi indikator tambahan. Pertumbuhan yang konsisten menunjukkan bisnis utama masih memiliki perkembangan.
Namun, rasio tidak boleh dibaca secara terpisah. Standar yang wajar dapat berbeda antara satu sektor dan sektor lainnya.
DER yang tinggi mungkin masih dapat diterima pada sektor tertentu. Sebaliknya, rasio yang sama bisa menjadi perhatian pada sektor dengan karakter bisnis berbeda.
Bagaimana dengan Saham Perbankan?
Saham perbankan membutuhkan pendekatan berbeda. Rasio perusahaan keuangan tidak dapat disamakan dengan perusahaan manufaktur.
Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain:
- NPL gross di bawah 3%, untuk melihat kualitas kredit.
- CAR di atas 20%, untuk melihat kecukupan modal.
- ROE di atas 10%, sebagai indikator profitabilitas.
- NIM, yang sebaiknya dibandingkan dengan rata-rata industri.
Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menilai bank berdasarkan karakter bisnisnya.
4. Cek Riwayat Dividen
Riwayat dividen juga dapat digunakan dalam proses screening. Perusahaan yang konsisten membagikan dividen biasanya memiliki arus kas yang relatif stabil.
Sebagai filter awal, investor dapat mencari emiten yang membagikan dividen setidaknya lima tahun berturut-turut.
Rasio pembayaran dividen atau payout ratio juga perlu diperhatikan. Kisaran 30% hingga 60% dapat digunakan sebagai panduan umum.
Rasio yang terlalu tinggi tidak selalu menjadi kabar baik. Perusahaan mungkin memiliki ruang ekspansi yang lebih terbatas jika sebagian besar laba dibagikan.
Sebaliknya, payout ratio yang rendah dapat menunjukkan perusahaan sedang menahan kas untuk kebutuhan bisnis. Karena itu, alasan di balik kebijakan dividen juga perlu diperiksa.
Investor juga sebaiknya tidak hanya melihat dividend yield. Imbal hasil dividen dapat terlihat tinggi karena harga saham turun.
Karena itu, nilai dividen per saham perlu diperiksa bersama harga saham. Cara tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh.
5. Periksa Free Float dan Konsentrasi Kepemilikan
Kriteria terakhir yang sering terlewat adalah free float. Padahal, indikator ini berkaitan langsung dengan jumlah saham yang benar-benar tersedia di pasar.
Free float merupakan porsi saham yang beredar dan dapat diperdagangkan oleh publik. Semakin kecil porsinya, semakin terbatas jumlah saham yang tersedia.
Sebagai acuan, investor dapat menggunakan free float minimal 15%. Selain itu, status konsentrasi kepemilikan juga perlu diperiksa.
Bursa memiliki kategori High Shareholding Concentration atau HSC. Kategori ini berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi.
Sejak Juli 2026, kriteria HSC juga mempertimbangkan price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi tertentu. Saham yang masuk daftar tersebut dapat terdampak pada komposisi indeks utama.
Kondisi ini bukan berarti perusahaan melakukan pelanggaran. HSC lebih berkaitan dengan struktur kepemilikan dan kondisi likuiditas saham.
Karena itu, investor perlu melihat daftar HSC terbaru sebelum memasukkan sebuah saham ke daftar kandidat.
Setelah Lolos Screening, Jangan Lupa Cek Valuasi
Screening hanya membantu menilai kualitas awal. Proses tersebut belum menjawab apakah harga saham sudah murah atau mahal.
Setelah mendapatkan daftar pendek, investor dapat melanjutkan dengan analisis valuasi. Dua rasio yang umum digunakan adalah Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).
PER dan PBV sebaiknya dibandingkan dengan perusahaan lain dalam sektor yang sama. Selain itu, investor dapat membandingkannya dengan rata-rata historis perusahaan.
Perbandingan historis penting karena setiap emiten memiliki karakter valuasi berbeda. PER 25 kali bisa terlihat mahal bagi satu perusahaan.
Namun, angka yang sama dapat berada di bawah rata-rata historis perusahaan lainnya. Karena itu, konteks menjadi bagian penting dalam membaca valuasi.
Selain valuasi, investor juga perlu membaca laporan keuangan secara langsung. Tujuannya untuk memastikan kualitas laba dan kondisi bisnis sebenarnya.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Screening Saham
Proses penyaringan dapat menghasilkan kesimpulan keliru jika data digunakan secara sembarangan. Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari:
- Menggunakan nilai transaksi hanya dalam satu hari.
- Membandingkan rasio perusahaan dari sektor berbeda.
- Hanya melihat rasio tanpa membaca laporan keuangan.
- Mengabaikan free float dan konsentrasi kepemilikan.
- Tidak memeriksa perubahan konstituen indeks.
- Tidak melakukan screening ulang setelah laporan keuangan terbaru terbit.
- Menganggap saham yang lolos screening pasti aman.
Investor juga perlu berhati-hati terhadap laba yang berasal dari transaksi satu kali. Laba besar belum tentu menunjukkan pertumbuhan bisnis utama.
Karena itu, membaca laporan keuangan tetap menjadi tahap penting setelah proses penyaringan.
Seberapa Sering Screening Saham Perlu Dilakukan?
Screening sebaiknya dilakukan secara berkala. Minimal, investor dapat melakukan pemeriksaan ulang setiap kuartal.
Periode tersebut bertepatan dengan publikasi laporan keuangan perusahaan. Selain itu, investor dapat menyesuaikan screening dengan evaluasi indeks.
Status HSC juga perlu diperiksa secara terpisah. Pembaruan daftar tersebut dapat terjadi lebih sering dibandingkan evaluasi indeks.
Dengan pemeriksaan rutin, daftar saham kandidat tetap sesuai dengan kondisi terbaru. Investor juga dapat lebih cepat mengetahui perubahan fundamental atau struktur kepemilikan.
Namun, frekuensi screening tetap dapat disesuaikan dengan strategi. Investor jangka panjang mungkin tidak perlu melakukan penyaringan setiap hari.
Kesimpulan
Cara screening saham blue chip dapat dilakukan dengan lima kriteria utama. Investor dapat memulai dari kapitalisasi pasar dan status indeks.
Selanjutnya, likuiditas perdagangan perlu diperiksa. Fundamental, riwayat dividen, serta struktur kepemilikan juga tidak boleh dilewatkan.
Sebagai filter awal, investor dapat menggunakan kapitalisasi di atas Rp50 triliun, nilai transaksi rata-rata di atas Rp50 miliar, serta ROE di atas 10%.
Kriteria lainnya mencakup laba positif selama lima tahun, riwayat dividen minimal lima tahun, dan free float minimal 15%.
Namun, angka tersebut hanya menjadi panduan. Investor tetap perlu menyesuaikannya dengan sektor dan strategi investasi masing-masing.
Setelah saham lolos screening, tahap berikutnya adalah analisis valuasi. PER dan PBV dapat dibandingkan dengan rata-rata sektor serta historis perusahaan.
Yang terpenting, saham blue chip bukan berarti bebas risiko. Harga tetap dapat turun dan kinerja perusahaan dapat berubah.
Karena itu, screening sebaiknya menjadi langkah awal. Keputusan investasi tetap membutuhkan analisis yang lebih menyeluruh.
FAQ
Apa itu screening saham?
Screening saham adalah proses menyaring sejumlah saham menggunakan kriteria tertentu. Tujuannya adalah menghasilkan daftar saham yang layak dianalisis lebih lanjut.
Apa saja kriteria saham blue chip?
Kriteria yang dapat digunakan meliputi kapitalisasi pasar, likuiditas, fundamental, riwayat dividen, serta free float dan konsentrasi kepemilikan.
Berapa kapitalisasi pasar minimal saham blue chip?
Tidak ada batas resmi yang menetapkan status blue chip. Sebagai panduan praktis, investor dapat menggunakan kapitalisasi di atas Rp50 triliun.
Apakah semua saham LQ45 termasuk blue chip?
Tidak selalu. LQ45 mempertimbangkan likuiditas dan kapitalisasi. Fundamental, valuasi, dan dividen tetap perlu diperiksa secara terpisah.
Mengapa free float penting dalam screening saham?
Free float menunjukkan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik. Free float rendah dapat membuat likuiditas lebih terbatas.
Berapa ROE yang bisa digunakan sebagai filter?
ROE di atas 10% dapat digunakan sebagai ambang awal. Namun, investor sebaiknya membandingkannya dengan perusahaan lain dalam sektor yang sama.
Apakah saham blue chip pasti aman?
Tidak. Status blue chip bukan jaminan keuntungan. Saham berkapitalisasi besar tetap memiliki risiko penurunan harga dan kerugian.
Seberapa sering screening saham perlu dilakukan?
Screening dapat dilakukan minimal setiap kuartal. Investor juga perlu memeriksa perubahan indeks, laporan keuangan, dan status konsentrasi kepemilikan.










