Cara Mengetahui Saham Mahal atau Murah untuk Pemula

dimsam

RaftenInfo.com – Jakarta Cara mengetahui saham mahal atau murah penting dipahami sebelum membeli saham. Harga Rp1.000 per saham belum tentu berarti murah.

Sebaliknya, saham dengan harga Rp10.000 juga belum tentu mahal. Harga saham harus dibandingkan dengan kinerja dan nilai perusahaan.

Investor biasanya menggunakan analisis fundamental untuk menilai kondisi tersebut. Beberapa rasio yang sering digunakan adalah Price to Earnings Ratio atau PER dan Price to Book Value atau PBV.

Namun, satu rasio saja tidak cukup. Valuasi perlu dilihat bersama pertumbuhan laba, utang, arus kas, kualitas bisnis, dan kondisi industrinya.

Apa Arti Saham Mahal dan Murah?

Saham murah atau undervalued berarti harga pasar dinilai lebih rendah dibandingkan nilai wajarnya. Sebaliknya, saham mahal atau overvalued berarti harga pasar sudah relatif tinggi dibandingkan nilai wajarnya.

Konsep tersebut berbeda dengan harga nominal saham. Saham Rp100 dapat saja mahal jika kinerja perusahaan buruk.

Saham Rp5.000 juga bisa murah jika perusahaan memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang baik.

Oleh karena itu, jangan menilai saham hanya dari nominal harganya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Harga saham saat ini.
  • Laba perusahaan.
  • Nilai buku.
  • Pertumbuhan pendapatan.
  • Pertumbuhan laba.
  • Utang perusahaan.
  • Arus kas.
  • Profitabilitas.
  • Prospek industri.
  • Valuasi perusahaan sejenis.

Otoritas Jasa Keuangan juga menjelaskan bahwa PER dan PBV dapat digunakan dalam analisis fundamental untuk membantu menilai apakah saham relatif mahal, murah, atau wajar berdasarkan kriteria tertentu.

Cara Mengetahui Saham Mahal atau Murah dengan PER

PER atau Price to Earnings Ratio merupakan salah satu rasio yang paling sering digunakan.

Rasio ini membandingkan harga saham dengan laba per saham. Secara sederhana:

PER = Harga Saham ÷ Laba per Saham

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki harga saham Rp1.000. Laba per sahamnya Rp100.

Maka:

PER = Rp1.000 ÷ Rp100 = 10 kali

Artinya, harga saham tersebut berada pada 10 kali laba per sahamnya.

Semakin tinggi PER, saham secara relatif dapat terlihat lebih mahal. Namun, PER tinggi tidak otomatis berarti saham harus dijual.

Pasar mungkin memberikan PER tinggi karena mengharapkan pertumbuhan laba yang besar.

Sebaliknya, PER rendah juga tidak selalu berarti saham murah. Bisa saja pasar memberikan valuasi rendah karena perusahaan menghadapi masalah.

Karena itu, PER harus dibandingkan dengan perusahaan sejenis.

Bandingkan PER dengan Kompetitor

Kesalahan yang sering dilakukan investor adalah melihat angka PER secara sendirian.

Misalnya, perusahaan A memiliki PER 8 kali. Perusahaan B memiliki PER 15 kali.

Sekilas, perusahaan A terlihat lebih murah.

Namun, bagaimana jika laba perusahaan A stagnan? Sementara itu, laba perusahaan B tumbuh 20 persen per tahun.

Dalam kondisi tersebut, PER perusahaan B yang lebih tinggi belum tentu membuatnya lebih mahal secara relatif.

Karena itu, lakukan perbandingan dengan:

  • Perusahaan dalam sektor yang sama.
  • Rata-rata PER industrinya.
  • PER historis perusahaan.
  • Pertumbuhan laba perusahaan.
  • Prospek bisnis ke depan.

Membandingkan perusahaan dalam sektor yang sama membuat hasil analisis lebih relevan.

Gunakan PBV untuk Melihat Valuasi

PBV atau Price to Book Value juga dapat digunakan untuk menilai harga saham.

Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham.

Rumus sederhananya:

PBV = Harga Saham ÷ Nilai Buku per Saham

Misalnya harga saham Rp1.500. Nilai buku per saham Rp1.000.

Maka:

PBV = 1,5 kali

Artinya, pasar menghargai saham tersebut sekitar 1,5 kali nilai bukunya.

PBV rendah dapat menunjukkan valuasi yang lebih rendah. Namun, interpretasinya tetap harus mempertimbangkan karakter bisnis perusahaan.

OJK juga mendefinisikan PBV sebagai perbandingan harga saham terhadap nilai buku perusahaan. Sementara itu, PER membandingkan harga saham dengan laba yang dihasilkan perusahaan.

Jangan Terjebak PBV Rendah

PBV rendah memang menarik bagi investor value. Namun, PBV rendah bukan jaminan saham tersebut murah.

Perusahaan bisa memiliki PBV rendah karena pasar memperkirakan kinerja bisnisnya akan menurun.

Contohnya, perusahaan memiliki banyak aset. Namun, aset tersebut tidak menghasilkan keuntungan yang optimal.

Akibatnya, nilai buku terlihat besar. Tetapi kemampuan perusahaan menghasilkan laba tetap rendah.

Karena itu, PBV perlu dilihat bersama ROE, pertumbuhan laba, dan kualitas aset.

Periksa Pertumbuhan Laba

Laba menjadi salah satu indikator penting dalam menilai perusahaan.

Perusahaan dengan laba yang tumbuh konsisten biasanya lebih menarik dibandingkan perusahaan dengan laba yang terus menurun.

Perhatikan kinerja beberapa tahun. Jangan hanya melihat laba satu kuartal.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

  • Pertumbuhan laba bersih.
  • Pertumbuhan pendapatan.
  • Margin keuntungan.
  • Laba operasional.
  • Laba per saham atau EPS.
  • Konsistensi kinerja.

Jika laba tumbuh konsisten, valuasi yang terlihat tinggi bisa saja masih masuk akal.

Sebaliknya, PER rendah pada perusahaan dengan laba yang terus turun perlu diperhatikan.

Perhatikan ROE Perusahaan

ROE atau Return on Equity menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.

Secara sederhana:

ROE = Laba Bersih ÷ Ekuitas

Semakin baik kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari modalnya, semakin menarik kualitas bisnisnya.

Namun, ROE juga perlu dianalisis bersama utang.

Perusahaan dengan utang besar dapat memiliki ROE tinggi. Karena itu, investor perlu melihat sumber pertumbuhan ROE tersebut.

Jangan hanya mencari perusahaan dengan ROE tinggi. Pastikan profitabilitasnya juga sehat dan berkelanjutan.

Cek Utang Perusahaan

Utang menjadi faktor penting ketika menilai saham.

Perusahaan dengan utang terlalu tinggi dapat menghadapi beban bunga besar. Kondisi tersebut dapat menekan laba dan arus kas.

Beberapa rasio yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Debt to Equity Ratio atau DER.
  • Debt to Asset Ratio.
  • Interest Coverage Ratio.
  • Arus kas operasional.

Namun, batas utang yang sehat berbeda pada setiap industri.

Perusahaan perbankan, konstruksi, properti, dan konsumer memiliki karakter keuangan yang berbeda.

Karena itu, bandingkan utang dengan perusahaan sejenis.

Periksa Arus Kas

Laba besar belum tentu berarti perusahaan menghasilkan kas yang kuat.

Investor perlu melihat arus kas operasional. Arus kas menunjukkan kemampuan bisnis menghasilkan uang dari kegiatan operasionalnya.

Perusahaan yang mencatat laba tetapi arus kas operasionalnya terus negatif perlu diperhatikan.

Sebaliknya, arus kas yang sehat dapat menunjukkan kualitas laba yang lebih baik.

Karena itu, jangan hanya membaca laporan laba rugi. Periksa juga laporan arus kas dan neraca.

Bandingkan dengan Valuasi Historis

Cara lain mengetahui saham mahal atau murah adalah melihat valuasi historis.

Misalnya, saham biasanya diperdagangkan pada PER 10 hingga 15 kali.

Kemudian, harga saham naik sehingga PER mencapai 25 kali.

Kondisi tersebut menunjukkan valuasi sudah jauh di atas rata-rata historis.

Namun, jangan langsung menyimpulkan saham pasti turun.

Perusahaan mungkin sedang memasuki fase pertumbuhan baru. Jika laba meningkat pesat, PER dapat kembali turun meskipun harga saham tetap tinggi.

Karena itu, valuasi historis harus dikombinasikan dengan prospek pertumbuhan.

Gunakan Konsep PEG Ratio

Investor juga dapat menggunakan PEG Ratio sebagai alat tambahan.

PEG membandingkan PER dengan pertumbuhan laba.

Secara sederhana:

PEG = PER ÷ Pertumbuhan Laba

Misalnya PER sebuah saham 20 kali. Pertumbuhan labanya 20 persen.

Maka PEG sekitar 1.

PEG dapat membantu membandingkan valuasi dengan pertumbuhan. Namun, rasio ini memiliki keterbatasan.

Pertumbuhan laba yang digunakan harus realistis. Jangan menggunakan proyeksi yang terlalu optimistis.

Karena itu, PEG sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan satu-satunya dasar keputusan.

Contoh Sederhana Menilai Saham

Misalkan ada dua perusahaan dalam industri yang sama.

Perusahaan A:

  • PER: 8 kali.
  • PBV: 0,8 kali.
  • Pertumbuhan laba: 2 persen.
  • ROE: 6 persen.
  • Utang: relatif tinggi.

Perusahaan B:

  • PER: 15 kali.
  • PBV: 2 kali.
  • Pertumbuhan laba: 18 persen.
  • ROE: 16 persen.
  • Utang: lebih terkendali.

Perusahaan A terlihat lebih murah berdasarkan PER dan PBV.

Namun, perusahaan B memiliki pertumbuhan laba dan ROE lebih tinggi.

Apakah A otomatis lebih baik? Belum tentu.

Investor perlu mencari tahu alasan valuasi A rendah. Bisa saja pasar memberikan diskon karena prospek bisnisnya kurang menarik.

Sementara itu, valuasi B yang lebih tinggi mungkin mencerminkan ekspektasi pertumbuhan.

Inilah alasan investor tidak boleh menggunakan satu rasio saja.

Checklist Saham Murah Berkualitas

Jika ingin mencari saham yang relatif murah, gunakan beberapa indikator sekaligus.

Berikut checklist sederhana:

  • PER relatif menarik dibandingkan sektor.
  • PBV masih masuk akal.
  • Laba tumbuh secara konsisten.
  • Pendapatan memiliki tren positif.
  • ROE cukup baik.
  • Utang masih terkendali.
  • Arus kas sehat.
  • Bisnis memiliki prospek.
  • Manajemen memiliki rekam jejak baik.
  • Valuasi historis tidak terlalu tinggi.
  • Harga saham memiliki margin of safety.

Semakin banyak faktor positif yang terpenuhi, semakin kuat alasan untuk melakukan analisis lanjutan.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Pertama, menganggap saham Rp50 pasti murah. Harga nominal tidak menentukan valuasi.

Kedua, membeli saham hanya karena PER rendah. Rasio rendah bisa menjadi sinyal adanya masalah.

Ketiga, menggunakan PBV tanpa melihat ROE. Nilai buku yang besar tidak selalu menghasilkan keuntungan yang baik.

Keempat, membandingkan PER perusahaan dari sektor berbeda.

Kelima, mengabaikan pertumbuhan laba dan arus kas.

Keenam, membeli saham hanya karena sudah turun jauh dari harga tertingginya.

Saham yang turun 50 persen tidak otomatis murah. Harga masih dapat turun jika fundamental perusahaan terus memburuk.

Langkah Praktis Sebelum Membeli Saham

Untuk investor pemula, proses analisis dapat dibuat sederhana.

Ikuti langkah berikut:

  1. Pilih sektor yang dipahami.
  2. Cari beberapa perusahaan sejenis.
  3. Bandingkan PER dan PBV.
  4. Periksa pertumbuhan pendapatan dan laba.
  5. Periksa ROE dan utang.
  6. Cek arus kas perusahaan.
  7. Lihat valuasi historis.
  8. Pelajari prospek industri.
  9. Tentukan estimasi nilai wajar.
  10. Bandingkan nilai wajar dengan harga pasar.
  11. Tentukan batas risiko sebelum membeli.

Dengan cara tersebut, keputusan investasi menjadi lebih terstruktur.

Kesimpulan

Cara mengetahui saham mahal atau murah tidak cukup dengan melihat harga per lembar. Investor perlu membandingkan harga saham dengan kinerja dan nilai perusahaan.

PER dan PBV dapat menjadi titik awal. Namun, keduanya sebaiknya digunakan bersama pertumbuhan laba, ROE, utang, arus kas, serta prospek bisnis.

Saham dengan PER rendah belum tentu murah. Begitu juga saham dengan PER tinggi belum tentu mahal.

Hal yang paling penting adalah mengetahui alasan di balik valuasi tersebut.

Jika perusahaan memiliki fundamental kuat dan pertumbuhan yang baik, valuasi lebih tinggi mungkin masih dapat dibenarkan.

Sebaliknya, saham dengan valuasi rendah perlu diteliti lebih dalam. Bisa saja pasar sedang memberikan diskon karena terdapat masalah fundamental.

Karena itu, gunakan beberapa indikator sekaligus. Hindari keputusan berdasarkan satu angka atau pergerakan harga semata.

Perlu diingat, analisis valuasi hanya membantu memperkirakan kewajaran harga. Tidak ada metode yang dapat menjamin harga saham akan naik.

FAQ

1. Bagaimana cara mengetahui saham mahal atau murah?
Gunakan PER, PBV, pertumbuhan laba, ROE, utang, arus kas, dan bandingkan dengan perusahaan sejenis.

2. Apakah PER rendah berarti saham murah?
Belum tentu. PER rendah bisa terjadi karena pasar memperkirakan pertumbuhan perusahaan akan lemah.

3. Apakah PBV rendah berarti saham bagus?
Tidak selalu. PBV rendah harus dilihat bersama profitabilitas, kualitas aset, ROE, dan prospek bisnis.

4. Mana yang lebih penting, PER atau PBV?
Keduanya memiliki kegunaan berbeda. PER lebih berkaitan dengan laba, sedangkan PBV membandingkan harga dengan nilai buku.

5. Berapa PER yang dianggap murah?
Tidak ada angka yang berlaku untuk semua saham. Bandingkan PER dengan perusahaan sejenis, rata-rata industri, dan riwayat valuasi perusahaan.

6. Apakah saham yang sudah turun banyak pasti murah?
Tidak. Penurunan harga tidak otomatis membuat saham undervalued. Fundamental perusahaan tetap harus diperiksa.

7. Apa indikator saham murah yang paling penting?
Tidak ada satu indikator terbaik. Kombinasi valuasi, pertumbuhan laba, profitabilitas, utang, arus kas, dan prospek bisnis memberikan gambaran lebih lengkap.

8. Apakah analisis valuasi menjamin saham akan naik?
Tidak. Valuasi hanya membantu menilai kewajaran harga. Pergerakan saham tetap dipengaruhi kondisi bisnis, sentimen pasar, ekonomi, dan berbagai faktor lainnya.

Penulis :

dimsam

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu