7 Saham Terbaik 2026 Berdasarkan Performa YTD

dimsam

7 Saham Terbaik 2026 Berdasarkan Performa YTD
Ilustrasi: 7 Saham Terbaik 2026 Berdasarkan Performa YTD

RaftenInfo.com, JakartaSaham terbaik 2026 kembali menjadi perhatian investor seiring banyaknya emiten yang mencatat pergerakan harga kuat sejak awal tahun. Performa Year-to-Date atau YTD menjadi salah satu acuan untuk melihat saham yang sedang outperform.

Namun, kenaikan harga bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Investor juga perlu melihat pertumbuhan laba, prospek bisnis, valuasi, likuiditas, serta katalis yang mendorong harga.

Sejumlah saham dari sektor pertambangan, energi, dan barang baku mencatat momentum menarik sepanjang 2026. Beberapa di antaranya adalah AMMN, ANTM, TINS, BRMS, BREN, CUAN, dan DOID.

Daftar tersebut bukan peringkat tujuh saham dengan return tertinggi di Bursa Efek Indonesia. Saham-saham ini lebih tepat dijadikan referensi awal untuk menyusun watchlist dan melakukan analisis lanjutan.

Apa Itu Performa YTD pada Saham?

Year-to-Date atau YTD menunjukkan perubahan harga saham sejak awal tahun hingga periode tertentu. Indikator ini cukup populer untuk melihat performa saham dalam satu tahun berjalan.

Sebagai contoh, sebuah saham berada di level Rp1.000 pada awal tahun. Jika kemudian naik menjadi Rp1.500, saham tersebut mencatat return YTD sekitar 50 persen.

Perhitungan sederhana tersebut belum memasukkan dividen dan biaya transaksi. Karena itu, angka YTD sebaiknya tidak dianggap sebagai gambaran keuntungan bersih investor.

Meski begitu, YTD tetap berguna sebagai filter awal. Investor dapat menggunakannya untuk membandingkan beberapa saham dalam periode yang sama.

Selain itu, performa YTD dapat membantu melihat sektor yang sedang mendapat perhatian pasar. Saham dengan momentum kuat kemudian dapat dimasukkan ke dalam daftar pantauan.

Namun, saham yang sudah naik tinggi juga memiliki risiko koreksi. Karena itu, investor tetap perlu mencari alasan di balik kenaikan tersebut.

7 Saham Terbaik 2026 yang Menarik Dipantau

Berikut tujuh saham yang masuk dalam daftar berdasarkan performa harga dan katalis bisnis yang menyertainya. Daftar ini bukan rekomendasi pembelian.

1. AMMN

AMMN merupakan salah satu saham yang menarik diperhatikan dari sektor barang baku. Emiten ini memiliki eksposur terhadap industri pertambangan tembaga dan emas.

Pergerakan AMMN sepanjang 2026 tidak terlepas dari perkembangan harga komoditas. Kegiatan produksi dan prospek tembaga juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Tembaga memiliki peran penting dalam elektrifikasi dan pembangunan infrastruktur energi. Karena itu, prospek permintaan komoditas tersebut menjadi salah satu katalis yang dapat memengaruhi sentimen pasar.

Investor yang memasukkan AMMN ke watchlist dapat mencermati beberapa faktor berikut:

  • Produksi tembaga dan emas.
  • Pergerakan harga komoditas global.
  • Realisasi proyek perusahaan.
  • Pertumbuhan pendapatan dan laba.
  • Valuasi setelah kenaikan harga.

Kenaikan harga saham tetap perlu dibandingkan dengan perkembangan fundamental. Jika harga bergerak jauh lebih cepat daripada kinerja perusahaan, risiko koreksi perlu diperhitungkan.

2. ANTM

ANTM menjadi emiten lain yang mendapat perhatian sepanjang 2026. Perusahaan memiliki eksposur terhadap sejumlah komoditas, termasuk emas dan nikel.

Kinerja keuangan juga menjadi salah satu faktor pendukung. ANTAM mencatat laba bersih sekitar Rp3,66 triliun pada kuartal I 2026.

Selain itu, saham ANTM cukup aktif diperdagangkan. Kondisi tersebut membuat pergerakannya relatif mudah dipantau oleh investor.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Harga emas dan nikel.
  • Volume penjualan komoditas.
  • Pertumbuhan laba.
  • Kebijakan pemerintah terkait mineral.
  • Pergerakan dana investor asing.

Di sisi lain, harga komoditas bersifat fluktuatif. Karena itu, kinerja saham ANTM tetap dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

3. TINS

TINS menjadi salah satu saham komoditas yang memiliki momentum menarik pada 2026. Kinerja perusahaan menjadi salah satu faktor yang mendukung perhatian pasar.

Pada semester I 2026, PT TIMAH membukukan laba bersih sekitar Rp2,71 triliun. Angka tersebut bahkan telah melampaui target laba bersih perseroan untuk satu tahun penuh.

Kinerja TINS sangat berkaitan dengan harga timah dunia. Ketika harga komoditas menguat dan produksi berjalan baik, prospek laba perusahaan dapat ikut meningkat.

Investor dapat memantau beberapa indikator berikut:

  • Harga timah global.
  • Produksi dan penjualan.
  • Margin keuntungan.
  • Regulasi pertambangan.
  • Konsistensi pertumbuhan laba.

Namun, harga saham juga dapat bergerak sebelum perubahan fundamental terlihat dalam laporan keuangan. Karena itu, momentum tetap perlu dibarengi analisis yang lebih menyeluruh.

4. BRMS

BRMS menjadi salah satu saham yang menarik bagi investor yang mengikuti tema emas. Emiten ini memiliki eksposur terhadap bisnis pertambangan mineral dan emas.

Perkembangan kapasitas produksi menjadi katalis penting bagi perusahaan. Selain itu, pergerakan harga emas juga dapat memengaruhi sentimen terhadap saham BRMS.

Meski begitu, saham dengan momentum tinggi dapat memiliki volatilitas yang lebih besar. Risiko koreksi perlu diperhatikan ketika harga sudah mengalami kenaikan signifikan.

Beberapa hal yang dapat dipantau investor antara lain:

  • Produksi emas.
  • Ekspansi kapasitas.
  • Harga emas.
  • Laba dan arus kas.
  • Volume transaksi.
  • Momentum teknikal.

Dengan begitu, investor tidak hanya melihat kenaikan harga. Perkembangan bisnis juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

5. BREN

Berbeda dari beberapa saham sebelumnya, BREN memberikan eksposur terhadap sektor energi terbarukan. Bisnis perusahaan berkaitan dengan portofolio pembangkit panas bumi dan angin.

Pada semester I 2026, Barito Renewables membukukan pendapatan konsolidasian sekitar 334 juta dolar AS. Angka tersebut meningkat 11,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penjualan listrik menjadi salah satu faktor pendukung kinerja. Tema transisi energi juga membuat BREN memiliki katalis yang berbeda dari emiten pertambangan.

Investor dapat memperhatikan:

  • Pertumbuhan kapasitas pembangkit.
  • Penjualan listrik.
  • Ekspansi proyek energi terbarukan.
  • EBITDA dan laba.
  • Valuasi saham.

Namun, prospek energi terbarukan juga perlu dilihat bersama kebutuhan modal. Ekspansi proyek membutuhkan investasi besar dan memiliki risiko pelaksanaan.

6. CUAN

CUAN merupakan saham dari sektor energi dengan eksposur terhadap pertambangan, mineral, energi, dan infrastruktur. Perusahaan memiliki sejumlah bisnis melalui entitas dalam grupnya.

Pergerakan CUAN tidak hanya dipengaruhi kinerja operasional. Aksi korporasi dan rencana ekspansi juga dapat menjadi perhatian investor.

Kombinasi antara momentum harga dan perkembangan bisnis membuat CUAN masuk dalam radar sejumlah investor. Namun, risiko tetap perlu diperhatikan.

Beberapa indikator yang dapat dipantau yaitu:

  • Ekspansi bisnis pertambangan.
  • Investasi baru.
  • Aksi korporasi.
  • Pendapatan dan laba.
  • Tingkat utang.
  • Kebutuhan modal untuk ekspansi.

Di sisi lain, ekspansi yang agresif dapat meningkatkan risiko keuangan. Karena itu, perkembangan neraca perusahaan juga penting diperhatikan.

7. DOID

DOID menjadi pilihan berikutnya dari sektor jasa pertambangan. Emiten ini berkaitan erat dengan bisnis BUMA International Group.

Kinerja DOID dipengaruhi aktivitas pertambangan dan kontrak dengan pelanggan. Volume produksi serta kondisi industri komoditas juga memiliki peran penting.

Perusahaan juga terus mencatat perkembangan bisnis sepanjang 2026. Kondisi tersebut membuat DOID menarik untuk masuk watchlist investor yang mengikuti sektor pertambangan.

Beberapa faktor yang dapat dipantau meliputi:

  • Kontrak baru.
  • Volume produksi.
  • EBITDA dan arus kas.
  • Tingkat utang.
  • Diversifikasi bisnis.
  • Prospek industri pertambangan.

Namun, kinerja jasa pertambangan juga bergantung pada aktivitas pelanggan. Pelemahan industri komoditas dapat memengaruhi permintaan jasa.

Apakah Saham dengan Return YTD Tinggi Layak Dibeli?

Tidak selalu. Return YTD tinggi menunjukkan bahwa saham tersebut mengalami apresiasi besar sejak awal tahun.

Namun, kenaikan harga tidak otomatis membuat saham menjadi murah atau menarik. Investor perlu melihat apakah kenaikan tersebut didukung fundamental perusahaan.

Ada beberapa alasan yang dapat membuat saham mengalami penguatan, seperti:

  • Pertumbuhan laba yang signifikan.
  • Kenaikan harga komoditas.
  • Kontrak baru.
  • Ekspansi bisnis.
  • Aksi korporasi.
  • Perubahan ekspektasi pasar.
  • Sentimen sektoral.

Kenaikan yang didukung laba dan arus kas memiliki karakter berbeda. Sebaliknya, kenaikan yang hanya didorong sentimen dapat lebih mudah berbalik arah.

Karena itu, investor perlu mengetahui penyebab utama di balik pergerakan harga. Langkah tersebut membantu menghindari keputusan berdasarkan tren semata.

Cara Memilih Saham Terbaik 2026 Secara Lebih Terukur

Performa YTD sebaiknya digunakan sebagai tahap awal. Setelah itu, investor perlu melakukan penyaringan yang lebih mendalam.

Bandingkan Performa dengan Periode Lain

Jangan hanya melihat pergerakan sejak Januari. Bandingkan juga dengan performa enam bulan atau satu tahun terakhir.

Cara tersebut membantu melihat apakah penguatan baru terjadi pada 2026. Investor juga dapat mengetahui apakah saham sudah berada dalam tren panjang.

Periksa Pertumbuhan Fundamental

Harga saham akan lebih menarik jika dibarengi perbaikan kinerja perusahaan. Beberapa indikator yang dapat diperhatikan meliputi:

  • Pendapatan.
  • Laba bersih.
  • EBITDA.
  • Margin keuntungan.
  • Arus kas.
  • Tingkat utang.

Selain itu, bandingkan pertumbuhan laba dengan kenaikan harga. Jika harga naik jauh lebih cepat, valuasi perlu diperiksa kembali.

Pahami Katalis Utama

Investor perlu mengetahui alasan pasar memberikan apresiasi terhadap sebuah saham. Katalis dapat berasal dari harga komoditas, ekspansi, kontrak baru, atau aksi korporasi.

Namun, katalis juga memiliki masa berlaku. Ketika kabar sudah sepenuhnya tercermin dalam harga, momentum dapat melemah.

Perhatikan Likuiditas

Likuiditas menentukan kemudahan investor membeli dan menjual saham. Saham dengan transaksi tinggi biasanya lebih mudah dipantau.

Sebaliknya, saham dengan likuiditas rendah dapat mengalami pergerakan harga yang lebih ekstrem. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ketika investor ingin keluar dari posisi.

Jangan Abaikan Valuasi

Perusahaan berkinerja bagus belum tentu menarik pada semua harga. Investor tetap perlu melihat valuasi setelah saham mengalami kenaikan.

Bandingkan valuasi dengan:

  • Riwayat valuasi perusahaan.
  • Pertumbuhan laba.
  • Emiten sejenis.
  • Prospek industri.
  • Risiko bisnis.

Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menghindari keputusan hanya karena harga saham sedang naik.

Tentukan Risiko Sebelum Membeli

Setiap investasi memiliki risiko. Karena itu, investor sebaiknya menentukan batas risiko sebelum masuk ke sebuah saham.

Hal yang perlu dipertimbangkan antara lain jumlah dana, potensi kerugian, alasan membeli, dan kondisi yang membuat tesis investasi berubah.

Saham Terbaik 2026 Tetap Perlu Dianalisis

AMMN, ANTM, TINS, BRMS, BREN, CUAN, dan DOID memiliki karakter bisnis yang berbeda. Sebagian memiliki eksposur komoditas, sementara lainnya bergerak di energi terbarukan atau jasa pertambangan.

Kesamaan utama dari daftar tersebut adalah adanya performa harga dan katalis yang menarik sepanjang 2026. Kondisi itu membuatnya layak dipantau sebagai bagian dari proses asset discovery.

Namun, status sebagai saham dengan performa kuat bukan berarti bebas risiko. Harga dapat mengalami koreksi meski fundamental perusahaan masih positif.

Karena itu, investor sebaiknya menggabungkan analisis YTD dengan fundamental, valuasi, likuiditas, dan momentum. Strategi tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap sebelum mengambil keputusan.

Kesimpulan

Saham terbaik 2026 tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan kenaikan harga. Performa YTD memang berguna untuk menemukan saham yang sedang outperform.

AMMN, ANTM, TINS, BRMS, BREN, CUAN, dan DOID menjadi beberapa emiten yang menarik untuk masuk watchlist. Masing-masing memiliki katalis dan risiko yang berbeda.

Saham berbasis komoditas sangat dipengaruhi harga global dan kondisi industri. Sementara itu, emiten energi terbarukan dan jasa pertambangan memiliki faktor bisnis yang berbeda.

Karena itu, investor perlu melihat lebih jauh setelah menemukan saham dengan YTD kuat. Fundamental, valuasi, likuiditas, dan katalis tetap menjadi pertimbangan penting.

Performa masa lalu juga tidak menjamin harga akan terus naik. Seluruh keputusan investasi perlu disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Investasi saham memiliki risiko dan setiap keputusan menjadi tanggung jawab investor.

FAQ

Apa yang dimaksud saham terbaik 2026?

Dalam konteks artikel ini, saham terbaik 2026 merujuk pada emiten yang menunjukkan performa harga dan katalis menarik sepanjang tahun. Daftar tersebut bukan peringkat return tertinggi di BEI.

Apa itu return YTD pada saham?

Return YTD menunjukkan perubahan harga saham sejak awal tahun hingga periode tertentu. Indikator ini dapat digunakan untuk membandingkan performa saham dalam periode yang sama.

Saham apa saja yang masuk daftar?

Tujuh saham yang dibahas adalah AMMN, ANTM, TINS, BRMS, BREN, CUAN, dan DOID.

Apakah saham dengan YTD tinggi aman dibeli?

Belum tentu. Kenaikan YTD tinggi dapat meningkatkan risiko koreksi. Investor tetap perlu memeriksa fundamental, valuasi, likuiditas, dan katalis.

Mengapa saham komoditas banyak masuk watchlist?

Harga komoditas, pertumbuhan produksi, dan prospek industri menjadi sejumlah katalis penting. Faktor tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kinerja emiten.

Apa yang harus diperiksa sebelum membeli saham?

Investor sebaiknya memeriksa pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, utang, valuasi, likuiditas, katalis, dan risiko bisnis.

Penulis :

dimsam

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu