7 Emiten Data Center di BEI, Ada DCII hingga EDGE

dimsam

7  Emiten Data Center di BEI, Ada DCII hingga EDGE
Ilustrasi: Emiten Data Center di BEI

RaftenInfo.com, Jakarta – Bisnis pusat data atau data center di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan cloud computing, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi perusahaan. Kondisi ini turut membuka peluang bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kebutuhan terhadap infrastruktur digital membuat data center tidak lagi menjadi bisnis khusus perusahaan teknologi. Infrastruktur tersebut kini menjadi bagian dari strategi ekspansi sejumlah perusahaan terbuka.

Per semester I-2026, kapasitas teknologi informasi data center di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 580 MW. Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi 3,5 GW pada 2030.

Pertumbuhan itu membuat sektor data center semakin menarik untuk diperhatikan investor. Namun, tidak semua perusahaan yang masuk sektor ini memiliki tingkat eksposur yang sama.

Ada emiten yang bisnis utamanya memang berfokus pada pusat data. Di sisi lain, ada pula perusahaan yang memiliki bisnis lebih beragam dan hanya menjadikan data center sebagai salah satu sumber pertumbuhan.

Daftar 7 Emiten Data Center di BEI

Berdasarkan daftar emiten yang memiliki aktivitas di industri tersebut, terdapat sejumlah nama yang perlu diperhatikan. Berikut tujuh emiten data center yang tercatat di BEI.

1. DCII

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi salah satu emiten dengan eksposur paling langsung terhadap bisnis data center.

Kegiatan utama perusahaan berfokus pada penyediaan infrastruktur pusat data. Fasilitasnya digunakan untuk kebutuhan hyperscale, cloud, serta pelanggan korporasi.

Pada 2026, DCII terus memperluas fasilitasnya. Salah satunya melalui E2 Surabaya yang diresmikan pada April 2026.

Fasilitas tersebut menjadi data center pertama DCI Indonesia di kawasan Indonesia Timur. Per Agustus 2026, kapasitas data center DCII disebut mencapai sekitar 119 MW.

Kapasitas tersebut tersebar di Cibitung, Karawang, dan Jakarta. Perusahaan juga mengembangkan fasilitas baru di Bintan dan Surabaya.

Karena fokus bisnisnya sangat kuat pada pusat data, DCII dapat dikategorikan sebagai salah satu pure-play data center di BEI.

2. EDGE

PT Indointernet Tbk (EDGE) juga memiliki eksposur langsung terhadap industri pusat data.

Perusahaan bergerak di bidang konektivitas, data center, serta komputasi awan. EDGE mengoperasikan fasilitas EDGE1 dan EDGE2 di Jakarta.

Salah satu fasilitas tersebut memiliki kapasitas IT hingga 6 MW. Sementara itu, total kapasitas pusat data yang dioperasikan disebut mencapai sekitar 23 MW.

EDGE juga memiliki keterkaitan dengan ekosistem Digital Edge. Ekosistem tersebut tengah memperbesar kapasitas pusat data di Indonesia.

Pada Januari 2026, Digital Edge mengumumkan investasi US$4,5 miliar untuk pembangunan CGK Campus di kawasan GIIC, Bekasi.

Kampus data center tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 500 MW. Kapasitasnya bahkan berpotensi dikembangkan hingga 1 GW.

Tahap pertama proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Karena itu, EDGE menjadi salah satu saham yang memiliki eksposur terhadap pertumbuhan data center komersial.

3. TLKM

Berbeda dengan DCII dan EDGE, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memiliki bisnis yang jauh lebih terdiversifikasi.

Meski demikian, Telkom mempunyai eksposur cukup besar terhadap industri data center melalui NeutraDC.

NeutraDC menjadi bagian dari strategi Telkom dalam mengembangkan infrastruktur digital. Bisnis tersebut mencakup pusat data serta layanan yang mendukung kebutuhan cloud dan AI.

Keunggulan TLKM terletak pada ekosistem bisnisnya. Telkom memiliki jaringan telekomunikasi, konektivitas, layanan digital, dan infrastruktur yang dapat menunjang bisnis pusat data.

Karena itu, data center bukan bisnis utama TLKM. Namun, sektor tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi pertumbuhan infrastruktur digital perseroan.

4. DSSA

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) merupakan emiten Grup Sinar Mas yang memiliki bisnis cukup beragam.

Perusahaan sebelumnya dikenal melalui bisnis pertambangan batu bara, energi, dan infrastruktur. Namun, DSSA kini semakin memperluas eksposurnya ke sektor digital dan data center.

DSSA menjadi salah satu emiten yang masuk ke industri data center bersama DCII, EDGE, TLKM, dan sejumlah perusahaan lainnya.

Pada Juli 2026, DSSA melakukan penambahan modal sekitar Rp8,53 triliun kepada PT Bali Media Telekomunikasi melalui anak usahanya, PT DSST Mas Gemilang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan bisnis digital perusahaan. Namun, karena portofolio DSSA sangat luas, kontribusi data center tidak sebesar emiten yang fokus pada pusat data.

Meski begitu, kemampuan pendanaan dan ekosistem usaha DSSA membuat perusahaan menarik diperhatikan dalam perkembangan infrastruktur digital Indonesia.

5. MLPT

PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) merupakan perusahaan teknologi informasi yang juga memiliki eksposur terhadap bisnis data center.

Perusahaan menyediakan berbagai solusi teknologi informasi untuk korporasi. Layanannya mencakup infrastruktur digital dan kebutuhan yang berkaitan dengan pusat data.

Namun, MLPT bukan perusahaan yang sepenuhnya bergantung pada pendapatan data center. Bisnisnya tetap mencakup berbagai solusi teknologi informasi lainnya.

Karena itu, kinerja saham MLPT tidak hanya dipengaruhi pertumbuhan pusat data. Perkembangan permintaan solusi IT korporasi juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

6. AREA

PT Dunia Virtual Online Tbk (AREA) merupakan emiten yang memiliki hubungan cukup langsung dengan layanan data center.

Perusahaan tercatat di BEI pada April 2024. AREA dikenal sebagai penyedia layanan pusat data.

Dari sisi skala, AREA masih lebih kecil dibandingkan DCII, TLKM, maupun EDGE. Namun, keberadaannya tetap relevan dalam daftar emiten yang memiliki bisnis data center di BEI.

Investor perlu melihat perkembangan kapasitas, pendapatan, serta ekspansi perusahaan untuk menilai seberapa besar kontribusi bisnis pusat data terhadap kinerja AREA.

7. INET

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menjadi contoh emiten yang sedang memperluas bisnis dari konektivitas menuju data center.

Bisnis utama INET masih berada di sektor konektivitas. Namun, perseroan mulai membangun bisnis pusat data melalui anak usaha PT Sinergi Inti Data Indonesia.

INET memiliki kepemilikan sebesar 85% pada anak usaha tersebut. Ekspansi ini membuat eksposur INET terhadap industri data center berpotensi semakin berkembang.

Karena itu, INET lebih tepat disebut sebagai emiten dengan eksposur data center yang sedang bertumbuh. Posisi tersebut berbeda dengan DCII yang sejak awal lebih fokus pada bisnis pusat data.

Perbedaan Fokus Bisnis Emiten Data Center

Ketujuh saham tersebut tidak bisa disamakan begitu saja. Tingkat ketergantungan terhadap bisnis data center berbeda pada masing-masing perusahaan.

Secara sederhana, pembagiannya dapat dilihat sebagai berikut:

  • DCII: pure-play data center.
  • EDGE: data center, konektivitas, dan cloud.
  • AREA: layanan data center.
  • TLKM: data center dan telekomunikasi.
  • DSSA: bisnis terdiversifikasi dengan ekspansi digital dan data center.
  • MLPT: solusi IT dan layanan terkait data center.
  • INET: konektivitas dengan ekspansi menuju data center.

Dari daftar tersebut, DCII dan EDGE menjadi dua emiten yang paling mudah dikategorikan sebagai pemain data center komersial.

Sementara itu, TLKM, DSSA, MLPT, AREA, dan INET mempunyai tingkat eksposur yang berbeda. Data center menjadi salah satu bagian dari bisnis atau strategi ekspansi masing-masing perusahaan.

Bukan Hanya Saham Data Center yang Bisa Diuntungkan

Pertumbuhan pusat data juga dapat memberikan dampak kepada perusahaan di sektor lain. Salah satunya adalah emiten kawasan industri.

Permintaan lahan untuk membangun pusat data dapat memberikan peluang bagi pengelola kawasan industri. Namun, perusahaan tersebut tidak otomatis dapat disebut sebagai emiten data center.

Beberapa contoh emiten kawasan industri yang berpotensi memperoleh manfaat tidak langsung antara lain KIJA, DMAS, BEST, dan SSIA.

Selain kebutuhan lahan, pembangunan data center juga membutuhkan listrik, konektivitas, sistem pendingin, serta berbagai infrastruktur pendukung.

Karena itu, pertumbuhan industri ini dapat menciptakan rantai bisnis yang cukup luas. Peluang tersebut tidak hanya berada pada perusahaan yang mengoperasikan pusat data secara langsung.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Pertumbuhan industri data center memang menawarkan peluang. Namun, investor tetap perlu melihat fundamental masing-masing perusahaan.

Besarnya kapasitas pusat data juga tidak otomatis menjamin pertumbuhan laba. Investor perlu melihat kemampuan perusahaan dalam mengubah ekspansi menjadi pendapatan dan arus kas.

Beberapa faktor yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Pertumbuhan pendapatan dan laba.
  • Penambahan kapasitas data center.
  • Tingkat utilisasi fasilitas.
  • Nilai investasi dan kebutuhan belanja modal.
  • Utang serta kemampuan membiayai ekspansi.
  • Kontrak dengan pelanggan.
  • Perkembangan cloud computing dan AI.
  • Valuasi saham dibandingkan fundamental perusahaan.

Selain itu, investor perlu membedakan antara peluang industri dan prospek saham secara individual.

Saham dengan eksposur data center tinggi belum tentu memiliki valuasi yang murah. Karena itu, analisis fundamental dan valuasi tetap diperlukan sebelum mengambil keputusan investasi.

Prospek Industri Data Center Indonesia

Kebutuhan pusat data diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital. Penggunaan AI dan layanan cloud juga membutuhkan kapasitas komputasi yang semakin besar.

Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu pasar penting data center di kawasan Asia. Jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan ekonomi digital menjadi salah satu pendukungnya.

Namun, industri ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan listrik, kebutuhan investasi besar, lahan, konektivitas, serta efisiensi operasional menjadi faktor penting.

Meskipun begitu, peningkatan kebutuhan komputasi memberikan ruang bagi perusahaan untuk terus mengembangkan kapasitas. Hal ini dapat menjadi katalis bagi emiten yang mampu menangkap pertumbuhan permintaan.

Dengan demikian, daftar emiten data center di BEI tidak hanya menarik dari sisi tren teknologi. Sektor ini juga dapat menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Kesimpulan

Terdapat tujuh emiten BEI yang memiliki eksposur terhadap bisnis data center, yaitu DCII, EDGE, TLKM, DSSA, MLPT, AREA, dan INET.

DCII dan EDGE memiliki eksposur paling langsung karena bisnis pusat data menjadi bagian penting dari operasionalnya. Sementara itu, TLKM, DSSA, MLPT, AREA, dan INET memiliki model bisnis yang lebih beragam.

Pertumbuhan AI, cloud computing, dan digitalisasi berpotensi meningkatkan kebutuhan data center di Indonesia. Namun, investor tetap perlu memperhatikan fundamental, valuasi, kapasitas ekspansi, dan risiko setiap emiten.

Daftar tersebut sebaiknya digunakan sebagai bahan pemantauan. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan strategi masing-masing investor.

FAQ

Apa saja emiten data center di BEI?

Beberapa emiten yang memiliki bisnis atau eksposur terhadap data center adalah DCII, EDGE, TLKM, DSSA, MLPT, AREA, dan INET.

Emiten mana yang paling fokus pada bisnis data center?

DCII menjadi salah satu emiten yang paling jelas dikategorikan sebagai pure-play data center. EDGE juga memiliki eksposur langsung melalui bisnis pusat data, konektivitas, dan cloud.

Apakah TLKM termasuk emiten data center?

Ya. TLKM memiliki eksposur terhadap bisnis pusat data melalui NeutraDC. Namun, bisnis Telkom jauh lebih luas karena mencakup telekomunikasi dan layanan digital.

Apakah saham kawasan industri termasuk saham data center?

Tidak secara langsung. Emiten seperti KIJA, DMAS, BEST, dan SSIA dapat memperoleh manfaat dari kebutuhan lahan pusat data. Namun, bisnis utama mereka bukan mengoperasikan data center.

Apakah pertumbuhan data center menjamin saham akan naik?

Tidak. Pertumbuhan industri tidak otomatis membuat harga saham meningkat. Fundamental, valuasi, sentimen pasar, dan kondisi perusahaan tetap memengaruhi pergerakan saham.

Penulis :

dimsam

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Download Alarm Sahur Lucu MP3 2023

Download Alarm Sahur Lucu MP3 2023

Kunjungi Artikel