RaftenInfo.com, Jakarta – Stock split merupakan salah satu aksi korporasi yang sering menarik perhatian investor. Aksi ini membuat jumlah saham investor bertambah, sementara harga per saham menyesuaikan secara proporsional.
Perubahan tersebut terkadang membuat harga saham terlihat turun cukup besar. Namun, penurunan harga akibat stock split berbeda dengan penurunan karena tekanan jual di pasar.
Secara sederhana, stock split membagi satu saham menjadi beberapa saham baru. Nilai posisi investor secara teoritis tetap sama setelah penyesuaian tersebut.
Karena itu, investor perlu memahami cara kerja stock split sebelum menilai pergerakan harga saham. Harga per lembar yang lebih rendah juga tidak otomatis berarti valuasi saham menjadi lebih murah.
Apa Itu Stock Split?
Stock split adalah aksi korporasi ketika perusahaan membagi saham yang beredar menjadi jumlah yang lebih banyak. Pada saat yang sama, harga setiap saham disesuaikan secara proporsional.
Sebagai contoh, perusahaan melakukan stock split dengan rasio 2:1. Artinya, setiap satu saham lama berubah menjadi dua saham baru.
Jika investor sebelumnya memiliki 10 saham, jumlah kepemilikannya menjadi 20 saham. Namun, harga teoritis per saham menjadi setengah dari harga sebelumnya.
Dengan demikian, jumlah saham memang berubah. Akan tetapi, persentase kepemilikan investor terhadap perusahaan tetap relatif sama.
Contohnya, investor memiliki 10 saham dengan harga US$500 per saham. Nilai total posisinya mencapai US$5.000.
Jika perusahaan melakukan stock split 5:1, investor akan memiliki 50 saham. Harga teoritisnya menjadi US$100 per saham.
Hasil akhirnya tetap sama secara teoritis:
- Sebelum split: 10 saham × US$500 = US$5.000
- Setelah split: 50 saham × US$100 = US$5.000
Artinya, stock split sendiri tidak langsung menambah nilai investasi.
Bagaimana Cara Kerja Stock Split?
Cara kerja stock split dapat dipahami melalui dua perubahan utama. Perusahaan mengubah jumlah saham beredar dan menyesuaikan harga per saham.
Rumus sederhananya adalah:
Jumlah saham baru = jumlah saham lama × rasio stock split
Sementara itu:
Harga setelah split = harga sebelum split ÷ rasio stock split
Misalnya, perusahaan melakukan stock split 10:1. Investor yang sebelumnya memiliki 10 saham akan mempunyai 100 saham.
Jika harga sebelum split mencapai US$500, harga teoritis setelah split menjadi US$50.
Namun, harga tersebut hanya merupakan harga teoritis. Setelah saham kembali diperdagangkan, harga pasar tetap bergerak mengikuti penawaran dan permintaan.
Sentimen investor, kondisi pasar, kinerja perusahaan, serta informasi baru juga dapat memengaruhi harga.
Karena itu, penurunan harga saham setelah stock split tidak boleh langsung dianggap sebagai kerugian. Investor perlu melihat apakah penurunan tersebut berasal dari penyesuaian split atau pergerakan pasar.
Jenis Stock Split yang Perlu Diketahui
Secara umum, terdapat dua jenis stock split. Keduanya memiliki mekanisme yang berlawanan.
1. Forward Stock Split
Forward stock split meningkatkan jumlah saham yang beredar. Sebaliknya, harga per saham turun secara proporsional.
Beberapa rasio yang umum digunakan antara lain 2:1, 3:1, 4:1, dan 10:1.
Sebagai contoh, dalam stock split 10:1, satu saham lama berubah menjadi sepuluh saham baru. Harga teoritis per saham kemudian menjadi sepersepuluh dari harga sebelumnya.
Tujuan perusahaan dapat berkaitan dengan upaya membuat harga nominal saham lebih mudah dijangkau.
2. Reverse Stock Split
Reverse stock split bekerja dengan arah yang berlawanan. Beberapa saham lama digabungkan menjadi jumlah saham yang lebih sedikit.
Misalnya, reverse stock split 1-for-10 berarti setiap 10 saham lama menjadi satu saham baru.
Akibatnya, jumlah saham berkurang. Sementara itu, harga per saham secara teoritis meningkat.
Perbandingannya dapat dilihat sebagai berikut:
| Faktor | Forward Stock Split | Reverse Stock Split |
|---|---|---|
| Jumlah saham | Bertambah | Berkurang |
| Harga per saham | Turun | Naik |
| Persentase kepemilikan | Relatif tetap | Relatif tetap |
| Nilai posisi saat penyesuaian | Secara teoritis tetap | Secara teoritis tetap |
Dalam beberapa kasus, reverse stock split digunakan perusahaan untuk meningkatkan harga perdagangan per saham. Salah satu alasannya dapat berkaitan dengan persyaratan harga minimum bursa.
Apa yang Berubah Setelah Stock Split?
Stock split mengubah sejumlah angka yang berkaitan dengan saham. Namun, tidak semua aspek perusahaan ikut berubah.
Beberapa hal yang berubah antara lain:
- Jumlah saham beredar.
- Harga per saham.
- EPS atau laba per saham.
- Dividen per saham, jika perusahaan membagikan dividen.
- Data historis per saham yang perlu disesuaikan.
Sementara itu, beberapa hal secara teoritis tidak berubah hanya karena stock split. Contohnya adalah nilai bisnis perusahaan dan persentase kepemilikan investor.
Fundamental perusahaan juga tidak otomatis berubah. Pendapatan, laba, aset, arus kas, dan kegiatan operasional tetap bergantung pada kondisi bisnis.
Karena itu, investor perlu menggunakan data yang sudah disesuaikan atau split-adjusted ketika membandingkan kinerja saham.
Hal tersebut penting agar perubahan jumlah saham tidak membuat analisis menjadi keliru.
Mengapa Perusahaan Melakukan Stock Split?
Ada beberapa alasan yang dapat mendorong perusahaan melakukan stock split. Salah satunya adalah menyesuaikan harga nominal saham.
Jika harga saham sudah sangat tinggi, perusahaan dapat melakukan split sehingga harga per lembar menjadi lebih rendah.
Selain itu, harga yang lebih rendah dapat membuat saham terlihat lebih mudah diakses oleh investor tertentu. Hal tersebut juga dapat mendukung aktivitas perdagangan.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti setiap stock split pasti meningkatkan likuiditas. Dampaknya dapat berbeda berdasarkan karakter saham dan kondisi pasar.
Beberapa alasan perusahaan melakukan stock split antara lain:
- Menurunkan harga nominal per saham.
- Membuat kepemilikan saham lebih mudah diakses.
- Mendukung aktivitas perdagangan.
- Menyesuaikan struktur saham setelah kenaikan harga yang signifikan.
- Memberikan fleksibilitas bagi program kepemilikan saham karyawan.
NVIDIA dan Broadcom merupakan contoh perusahaan besar di Amerika Serikat yang melakukan stock split 10:1 pada 2024.
NVIDIA mulai memperdagangkan saham dengan harga yang telah disesuaikan pada 10 Juni 2024. Sementara itu, Broadcom memulai perdagangan dengan harga split-adjusted pada 15 Juli 2024.
Kedua perusahaan tersebut menyampaikan aksesibilitas bagi investor dan karyawan sebagai salah satu alasan di balik aksi tersebut.
Apakah Stock Split Membuat Saham Lebih Murah?
Pertanyaan ini sering muncul setelah harga saham berubah drastis akibat stock split. Jawabannya bergantung pada pengertian “murah”.
Harga per saham memang menjadi lebih rendah. Namun, valuasi perusahaan tidak otomatis ikut turun.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki harga saham US$1.000 dan EPS US$50. Rasio P/E perusahaan tersebut adalah 20 kali.
Kemudian perusahaan melakukan stock split 10:1. Harga teoritis berubah menjadi US$100.
Namun, EPS juga menyesuaikan menjadi US$5. Dengan demikian, rasio P/E tetap berada di sekitar 20 kali.
Artinya, saham tersebut terlihat lebih murah dari sisi harga per lembar. Namun, valuasinya secara teoritis tetap sama.
Karena itu, investor tidak sebaiknya menilai saham hanya berdasarkan harga per lembar.
Faktor seperti P/E, pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, kondisi neraca, serta prospek bisnis tetap perlu diperhatikan.
Apakah Investor Mendapat Keuntungan dari Stock Split?
Stock split sendiri tidak memberikan keuntungan langsung kepada investor.
Jika nilai investasi sebelum split mencapai US$5.000, nilainya secara teoritis tetap US$5.000 setelah penyesuaian.
Namun, harga saham dapat bergerak setelah split. Pergerakan tersebut terjadi karena berbagai faktor pasar.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi harga setelah stock split meliputi:
- Kondisi pasar secara keseluruhan.
- Sentimen investor.
- Ekspektasi terhadap kinerja perusahaan.
- Permintaan dan penawaran saham.
- Kinerja fundamental perusahaan.
- Informasi baru yang memengaruhi prospek bisnis.
Karena itu, investor sebaiknya tidak membeli saham hanya karena perusahaan melakukan stock split.
Pengumuman split memang dapat menarik perhatian pasar. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi perusahaan dan valuasinya.
Cara Investor Menyikapi Stock Split
Bagi investor, memahami detail aksi korporasi menjadi langkah penting. Beberapa hal berikut dapat diperhatikan ketika sebuah perusahaan melakukan stock split:
- Cek rasio split. Pastikan mengetahui apakah rasionya 2:1, 5:1, 10:1, atau lainnya.
- Periksa tanggal efektif. Ketahui kapan saham mulai diperdagangkan dengan harga yang telah disesuaikan.
- Gunakan data split-adjusted. Cara ini membantu membandingkan harga dan kinerja saham secara lebih tepat.
- Jangan menganggap harga turun sebagai kerugian. Penyesuaian harga berbeda dari penurunan akibat aksi jual.
- Bedakan harga dan valuasi. Harga nominal yang rendah tidak otomatis berarti saham murah.
- Periksa fundamental perusahaan. Perhatikan pendapatan, laba, arus kas, neraca, dan prospek bisnis.
- Perhatikan kondisi pasar. Harga setelah split tetap dapat bergerak karena sentimen dan permintaan pasar.
Meskipun begitu, investor tetap perlu memahami tujuan perusahaan melakukan aksi korporasi tersebut. Stock split bukan pengganti analisis fundamental.
Kesimpulan
Stock split adalah aksi korporasi yang mengubah jumlah saham dan harga per saham secara proporsional. Aksi ini dapat berupa forward stock split maupun reverse stock split.
Pada forward stock split, jumlah saham bertambah dan harga per saham turun. Sebaliknya, reverse stock split mengurangi jumlah saham dan meningkatkan harga per saham secara teoritis.
Nilai posisi investor secara teoritis tetap sama saat penyesuaian dilakukan. Persentase kepemilikan juga tidak berubah hanya karena aksi tersebut.
Karena itu, harga saham yang turun setelah stock split tidak berarti valuasi perusahaan ikut turun. Investor tetap perlu melihat P/E, pertumbuhan bisnis, laba, arus kas, dan faktor fundamental lainnya.
Pada akhirnya, stock split lebih tepat dipahami sebagai perubahan struktur saham. Aksi tersebut bukan jaminan kenaikan harga dan bukan ukuran tunggal untuk menentukan apakah sebuah saham menarik atau tidak.








