Prospek Emas, Perak dan Platinum hingga Akhir 2026

jaya purnama

JAKARTARaftenInfo.com – Prospek emas, perak dan platinum hingga akhir 2026 masih menjadi perhatian investor. Ketiga logam mulia tersebut memiliki peluang pertumbuhan yang berbeda.

Harga emas tetap mendapat dukungan dari permintaan bank sentral global. Sementara itu, perak memiliki katalis dari sektor industri. Platinum juga berpeluang menguat karena pasokan yang ketat.

Perbedaan fundamental tersebut membuat investor perlu melihat karakter masing-masing komoditas. Potensi keuntungan memang menarik, namun risiko pergerakan harga tetap perlu diperhatikan.

Prospek emas, perak dan platinum hingga akhir 2026

Berdasarkan data perdagangan per 19 Agustus 2026, harga emas berada di US$4.343,17 per ons troi. Harga tersebut turun 1,48% dalam sepekan.

Meski demikian, kinerja emas masih positif dalam periode lebih panjang. Harga emas naik 8,36% dalam sebulan dan menguat 29,84% dalam setahun.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa emas masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai. Permintaan dari bank sentral juga menjadi salah satu faktor penting.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai permintaan emas masih kuat. China dan India menjadi dua negara yang disebut aktif meningkatkan kepemilikan emas.

Ibrahim memperkirakan harga emas dapat mencapai sekitar US$5.200 per ons troi pada akhir 2026. Namun, target tersebut tetap berupa proyeksi dan bukan jaminan harga.

Di sisi lain, pergerakan emas juga dipengaruhi kebijakan suku bunga, dolar Amerika Serikat, inflasi, dan kondisi geopolitik. Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global.

Perak punya ruang kenaikan lebih besar

Perak menunjukkan kinerja yang lebih agresif dibandingkan emas dalam periode satu tahun. Pada 19 Agustus 2026, harganya tercatat US$63,015 per ons troi.

Harga perak turun 3,53% dalam sepekan. Namun, komoditas ini masih mencatat kenaikan 11,75% dalam sebulan dan 66,22% dalam setahun.

Perak memiliki karakter yang cukup unik. Komoditas ini tidak hanya menjadi aset investasi. Perak juga digunakan dalam berbagai kebutuhan industri.

Permintaan industri membuat prospek perak bergantung pada pertumbuhan ekonomi dan aktivitas manufaktur. Ketika sektor industri meningkat, kebutuhan terhadap perak berpotensi ikut bertambah.

Ibrahim memperkirakan harga perak dapat mencapai US$95 per ons troi pada akhir 2026. Jika dibandingkan dengan harga sekitar US$63,015, ruang kenaikannya mencapai sekitar 50%.

Namun, potensi tersebut juga disertai risiko volatilitas yang lebih tinggi. Pergerakan perak cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.

Karena itu, investor tidak sebaiknya hanya melihat potensi keuntungan. Kondisi fundamental dan kemampuan menghadapi fluktuasi harga juga perlu menjadi pertimbangan.

Platinum ditopang defisit pasokan

Platinum memiliki faktor penggerak yang berbeda dari emas dan perak. Komoditas ini sangat dipengaruhi kondisi pasokan serta kebutuhan industri.

Harga platinum pada 19 Agustus 2026 tercatat US$1.724,80 per ons troi. Dalam sepekan, harganya turun 2,52%.

Meski begitu, platinum masih naik 7,53% dalam sebulan. Dalam satu tahun, harga platinum juga menguat 29,27%.

Salah satu katalis utama platinum adalah potensi defisit pasokan tambang. Afrika Selatan menjadi salah satu wilayah penting dalam produksi platinum dunia.

Selain itu, kebutuhan autokatalis kendaraan hybrid turut menjadi perhatian. Permintaan dari sektor industri dapat memberikan dukungan terhadap harga.

World Platinum Investment Council memproyeksikan pasar platinum mengalami defisit 297.000 ons pada 2026. Jika terealisasi, kondisi tersebut menjadi tahun keempat berturut-turut pasar mengalami defisit.

Selain sektor otomotif, kebutuhan baru dari ekspansi kecerdasan buatan dan pusat data juga menjadi peluang. Namun, dampaknya terhadap harga tetap bergantung pada perkembangan permintaan.

Proyeksi harga masih memiliki rentang lebar

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengingatkan investor agar tidak melihat proyeksi sebagai angka pasti.

Menurut dia, ketidakpastian pasar membuat rentang perkiraan harga cukup lebar. Perubahan ekonomi global dapat membuat proyeksi bergerak sewaktu-waktu.

Beberapa kisaran yang perlu diperhatikan hingga akhir 2026 meliputi:

  • Emas: sekitar US$4.000-US$4.900 per ons troi.
  • Perak: sekitar US$63 per ons troi pada kuartal IV.
  • Perak: rata-rata tahunan diperkirakan sekitar US$70 per ons troi.
  • Platinum: berada dalam rentang sekitar US$1.670-US$2.450 per ons troi.

Sutopo menyarankan investor menggunakan skenario rentang saat mengambil keputusan. Strategi tersebut dinilai lebih realistis dibandingkan hanya berpatokan pada satu target harga.

Dengan demikian, investor dapat menyiapkan beberapa kemungkinan. Strategi juga dapat disesuaikan ketika kondisi pasar berubah.

Mana yang paling menarik untuk investor?

Jika melihat potensi kenaikan berdasarkan proyeksi Ibrahim, perak memiliki ruang penguatan paling besar. Namun, potensi tersebut datang bersama risiko fluktuasi yang lebih tinggi.

Emas menawarkan karakter yang berbeda. Dukungan bank sentral dan permintaan investasi membuat emas tetap menarik bagi investor yang mengutamakan perlindungan nilai.

Sementara itu, platinum menawarkan peluang dari sisi pasokan. Defisit pasar dapat menjadi katalis apabila permintaan industri tetap kuat.

Pilihan investasi akhirnya bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Tidak semua komoditas cocok untuk setiap portofolio.

Investor konservatif dapat mempertimbangkan stabilitas emas sebagai salah satu faktor. Investor yang siap menghadapi volatilitas lebih tinggi dapat melihat peluang pada perak dan platinum.

Namun, keputusan tidak sebaiknya dibuat hanya berdasarkan prediksi harga. Kondisi ekonomi, kebijakan moneter, nilai tukar, permintaan industri, serta kondisi pasokan perlu dipantau.

Dengan karakter yang semakin berbeda, prospek emas, perak dan platinum hingga akhir 2026 tetap menarik untuk dicermati. Emas memiliki dukungan permintaan bank sentral. Perak menawarkan kombinasi permintaan investasi dan industri. Platinum memiliki katalis dari defisit pasokan.

Karena itu, tidak ada satu komoditas yang mutlak menjadi pilihan terbaik. Investor perlu menyesuaikan pilihan dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan toleransi risiko.

Pada akhirnya, proyeksi harga hanya menjadi salah satu bahan pertimbangan. Pengelolaan risiko tetap menjadi bagian penting dalam setiap keputusan investasi logam mulia.

Penulis :

jaya purnama

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu