Rafteninfo.com – Jakarta, Hyundai Motor Group membangun data flywheel Hyundai untuk memperkuat kemampuan kendaraan yang ditentukan oleh perangkat lunak atau software-defined vehicle (SDV). Sistem ini akan mengumpulkan dan menganalisis data dari jutaan kendaraan di seluruh dunia.
Data tersebut akan digunakan untuk menghadirkan pembaruan perangkat lunak melalui udara, termasuk peningkatan kemampuan berkendara otonom dan pengalaman infotainment di dalam kendaraan. Hyundai menyampaikan rencana ini dalam acara 2026 CEO Investor Day pada 26 Agustus 2026.
Pengumpulan data akan dimulai melalui sedan Grandeur di Korea Selatan. Kendaraan tersebut dilengkapi sistem infotainment Pleos Connect dan asisten kecerdasan buatan generatif Gleo AI.
Cara kerja data flywheel Hyundai
Dalam pengembangan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin, data flywheel merupakan siklus berkelanjutan. Sistem mengumpulkan data, menganalisisnya, lalu menggunakan hasil analisis untuk meningkatkan kemampuan produk.
Semakin banyak data yang terkumpul, semakin besar pula bahan yang tersedia untuk melatih model AI. Hyundai akan memanfaatkan data kendaraan Hyundai dan Kia terlebih dahulu untuk meningkatkan Gleo AI serta mengembangkan fitur infotainment baru.
Gleo AI akan berfokus pada pengendalian kendaraan dan fitur kenyamanan. Hyundai juga menyatakan bahwa asisten tersebut nantinya dapat terhubung dengan layanan aplikasi lain.
Peta jalan otonom Level 2+ dan Level 4
Hyundai berencana menghadirkan teknologi berkendara otonom yang lebih maju secara bertahap. Melalui kolaborasi dengan Nvidia, teknologi otonom Level 2+ akan ditambahkan ke SDV produksi massal pertama Hyundai pada 2028.
Data dari kendaraan tersebut akan membantu mengembangkan dan memperbarui Atria AI. Sistem ini merupakan teknologi berkendara otonom end-to-end milik Hyundai yang dikembangkan oleh unit perangkat lunak 42dot.
Pada akhir 2026, Atria AI akan digunakan pada kendaraan di Korea Selatan untuk mengumpulkan data mengenai situasi jalan yang tidak biasa atau tidak terduga. Data semacam itu dikenal sebagai edge case dan berperan penting dalam melatih model AI.
Selanjutnya, Atria AI akan diterapkan pada jutaan kendaraan Hyundai Group. Hyundai menargetkan pemanfaatan data tersebut untuk mendukung kemampuan otonom Level 2+ hingga Level 4.
Standarisasi sensor dan pembangunan pusat data
Hyundai akan menstandarkan arsitektur sensor kendaraannya berdasarkan ekosistem Nvidia. Dengan langkah ini, data dari Hyundai, Kia, 42dot, dan unit kendaraan otonom Motional dapat digunakan secara konsisten oleh setiap organisasi.
Dalam jangka panjang, Hyundai menargetkan sebagian besar kendaraan produksi massalnya menggunakan sistem sensor dan platform komputasi AI yang seragam. Standarisasi ini diharapkan mendukung pembaruan kemampuan kendaraan secara berkelanjutan.
Mulai 2029, Hyundai memperkirakan volume data berkendara otonom dari kendaraan terhubung akan meningkat pesat. Karena itu, perusahaan sedang menyiapkan Saemangeum AI Data Center di Korea Selatan.
Pusat data tersebut memiliki kapasitas 100 megawatt dan dapat menampung lebih dari 50.000 GPU. Fasilitas ini juga akan menghubungkan data dari sistem produksi global Hyundai dengan sistem AI internal perusahaan.
Dampak bagi pengembangan kendaraan Hyundai
Strategi ini menempatkan data sebagai dasar pengembangan fitur kendaraan Hyundai pada masa mendatang. Setiap kendaraan yang terhubung dapat membantu perusahaan menemukan pola penggunaan dan berbagai situasi berkendara di dunia nyata.
Hyundai berharap siklus pengumpulan, pemrosesan, dan pemanfaatan data dapat mempercepat pembelajaran AI. Dengan demikian, pembaruan kemampuan otonom dan infotainment dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan melalui perangkat lunak.
Namun, penerapan strategi tersebut tetap bergantung pada kesiapan sensor, infrastruktur komputasi, perangkat lunak, dan armada kendaraan yang mendukungnya. Hyundai kini mengarahkan berbagai unit teknologinya agar bekerja dengan standar data yang sama.










