JAKARTA – RaftenInfo.com – Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar setelah harga aset kripto tersebut menguat tajam dalam perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset digital.
Data CoinMarketCap pada Kamis pukul 16.56 WIB menunjukkan harga Bitcoin berada di level US$71.668,69. Nilai tersebut naik 11,37 persen dalam 24 jam terakhir.
Dalam sepekan, harga Bitcoin juga tercatat menguat 12,48 persen. Pergerakan tersebut membuat Bitcoin semakin diperhitungkan sebagai salah satu aset alternatif dalam portofolio investasi.
Bitcoin Makin Diperhitungkan sebagai Aset Alternatif
Penguatan harga Bitcoin menunjukkan perhatian investor terhadap aset kripto masih cukup besar. Minat tersebut tidak hanya datang dari investor ritel.
Investor institusional juga mulai memainkan peran yang lebih besar. Salah satu indikatornya terlihat dari arus dana yang masuk ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi tersebut memperkuat posisi Bitcoin di pasar investasi global. Menurutnya, karakter Bitcoin mulai mengalami perubahan.
Bitcoin kini dinilai semakin sensitif terhadap faktor ekonomi makro. Pergerakannya turut merespons likuiditas global, kebijakan pemerintah Amerika Serikat, dan arah pergerakan dolar AS.
Kondisi tersebut membuat Bitcoin mulai dipandang sebagai instrumen diversifikasi. Namun, karakter risikonya tetap berbeda dibandingkan emas atau instrumen investasi tradisional.
Dominasi Bitcoin juga menjadi perhatian. Pada periode tersebut, dominasi BTC mencapai 59,35 persen dari total kapitalisasi pasar kripto.
Angka tersebut menunjukkan Bitcoin masih menjadi aset utama dalam ekosistem kripto. Karena itu, perubahan harga BTC sering berdampak pada pergerakan aset kripto lainnya.
Risiko Bitcoin Tetap Tinggi
Meski peluangnya semakin besar, investor tetap perlu memahami risiko Bitcoin. Pergerakan harga aset digital ini dikenal sangat cepat dan sulit diprediksi.
Kenaikan dalam satu hari dapat terlihat menarik. Namun, kondisi yang sama juga bisa berubah menjadi koreksi tajam ketika sentimen pasar berbalik.
Yudhono mengingatkan bahwa Bitcoin memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan aset alternatif tradisional. Perubahan harga harian sebesar beberapa persen dapat terjadi dalam waktu singkat.
Investor juga perlu memperhatikan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi harga Bitcoin, antara lain:
- Kebijakan suku bunga dan likuiditas global.
- Pergerakan dolar AS.
- Arus dana menuju ETF Bitcoin.
- Sentimen investor terhadap pasar kripto.
- Perubahan kebijakan dan regulasi.
- Kondisi ekonomi serta geopolitik global.
Selain itu, investor perlu menghindari keputusan berdasarkan kenaikan harga semata. Lonjakan harga tidak selalu berarti tren tersebut akan bertahan dalam jangka panjang.
Strategi Investasi Bitcoin Perlu Disesuaikan
Co-founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, melihat peluang Bitcoin masih terbuka. Namun, ia menilai investor perlu menyesuaikan strategi dengan tujuan investasi.
Bagi investor jangka panjang, pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dapat menjadi salah satu pendekatan. Strategi tersebut dilakukan dengan membeli aset secara berkala.
Dengan cara tersebut, investor tidak harus menebak titik harga terendah. Pembelian dilakukan berdasarkan jadwal dan jumlah yang telah ditentukan.
Namun, DCA bukan berarti investasi menjadi bebas risiko. Harga Bitcoin tetap dapat mengalami penurunan besar setelah pembelian dilakukan.
Sementara itu, investor jangka pendek memiliki pendekatan berbeda. Trader dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga untuk mencari peluang keuntungan.
Meski demikian, strategi jangka pendek membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih ketat. Pergerakan Bitcoin yang cepat dapat menyebabkan kerugian dalam waktu singkat.
Karena itu, investor sebaiknya menentukan batas risiko sebelum melakukan transaksi. Dana untuk kebutuhan sehari-hari juga sebaiknya tidak digunakan untuk investasi berisiko tinggi.
Bitcoin Sebaiknya Bukan Pengganti Aset Inti
Yudhono menyarankan Bitcoin ditempatkan sebagai pelengkap portofolio. Artinya, aset kripto tidak harus menggantikan instrumen investasi utama.
Diversifikasi dapat membantu investor mengelola risiko. Namun, komposisi aset tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan menghadapi kerugian.
Investor dengan toleransi risiko rendah tentu memiliki kebutuhan berbeda. Sebaliknya, investor yang mampu menerima fluktuasi besar mungkin memiliki ruang lebih besar untuk aset kripto.
Di sisi lain, Bitcoin tetap memiliki potensi pertumbuhan jika minat institusional berlanjut. Arus dana ETF dan perkembangan regulasi menjadi beberapa faktor yang patut diperhatikan.
Meskipun begitu, tidak ada jaminan harga akan terus naik. Investor perlu melihat Bitcoin berdasarkan tujuan dan jangka waktu investasi.
Proyeksi Harga Bitcoin hingga Akhir 2026
Pandangan mengenai harga Bitcoin sampai akhir 2026 masih beragam. Perbedaan proyeksi menunjukkan tingginya ketidakpastian di pasar kripto.
Christopher memperkirakan harga Bitcoin dapat berada di kisaran US$40.000 hingga US$60.000. Proyeksi tersebut mempertimbangkan kemungkinan siklus bearish masih berlanjut.
Sementara itu, Yudhono memiliki proyeksi yang lebih optimistis. Ia memperkirakan skenario dasar Bitcoin berada di kisaran US$70.000 hingga US$85.000.
Dalam skenario bullish, Bitcoin bahkan berpeluang menembus US$100.000. Skenario tersebut dapat terjadi apabila arus ETF dan sentimen regulasi terus memberikan dukungan.
Namun, proyeksi tersebut tetap bukan kepastian. Pasar kripto dapat berubah cepat karena dipengaruhi banyak faktor.
Investor karena itu perlu menghindari keputusan hanya berdasarkan target harga. Analisis risiko dan kemampuan finansial tetap menjadi pertimbangan utama.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
Bitcoin memang semakin mendapatkan perhatian sebagai aset alternatif. Namun, peluang tersebut selalu berjalan bersama risiko yang besar.
Sebelum membeli Bitcoin, investor dapat memperhatikan beberapa hal berikut:
- Tentukan tujuan investasi sejak awal.
- Sesuaikan alokasi dengan toleransi risiko.
- Gunakan dana yang tidak diperlukan dalam waktu dekat.
- Pertimbangkan pembelian secara bertahap.
- Hindari keputusan karena takut ketinggalan tren.
- Pantau perkembangan ekonomi dan regulasi.
- Siapkan batas kerugian sesuai kemampuan.
Dengan pendekatan tersebut, investor dapat mengambil keputusan secara lebih terukur. Selain itu, pemahaman terhadap volatilitas Bitcoin dapat membantu mengurangi keputusan emosional.
Pada akhirnya, Bitcoin memang semakin diperhitungkan dalam pasar investasi global. Kenaikan harga dan minat institusional menjadi sinyal bahwa aset digital tersebut semakin mendapat perhatian.
Namun, peluang keuntungan tidak boleh membuat investor mengabaikan risiko. Bitcoin tetap merupakan aset dengan volatilitas tinggi.
Karena itu, Bitcoin lebih tepat dipandang sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasi sebelum menentukan alokasi.
Dengan pengelolaan yang disiplin, investor dapat menghadapi peluang sekaligus risiko pasar kripto secara lebih rasional.





