Penguatan Rupiah Kembali Terjadi, BI Sebut Modal Asing Mengalir

jaya purnama

RaftenInfo.com – Jakarta – Penguatan rupiah kembali menjadi perhatian pada akhir Juli 2026 setelah nilai tukar sempat mengalami tekanan sejak pertengahan Juni. Bank Indonesia (BI) menyebut mata uang Garuda berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat berkat masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Jabatan (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam konferensi pers di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Senin (3/8/2026). Menurutnya, berbagai kebijakan moneter dan stabilisasi pasar telah membantu memperkuat posisi rupiah.

Selain itu, BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui kombinasi kebijakan suku bunga, intervensi pasar valuta asing, serta langkah-langkah untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah Kembali ke Bawah Rp18.000 per Dolar AS

Bank Indonesia mengungkapkan bahwa penguatan rupiah membawa nilai tukar ke level Rp17.994 per dolar Amerika Serikat pada 31 Juli 2026. Angka tersebut menunjukkan perbaikan setelah rupiah sempat melemah sejak pertengahan Juni akibat berbagai tekanan eksternal.

Destry Damayanti menjelaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap ekonomi Indonesia. Di sisi lain, stabilitas sektor keuangan juga dinilai memberikan sentimen positif bagi investor.

Menurut BI, arus modal asing yang kembali masuk ke pasar domestik menjadi faktor penting yang mendukung penguatan mata uang nasional. Dana investor tersebut mengalir terutama ke instrumen investasi yang dinilai menawarkan imbal hasil menarik.

Sementara itu, kondisi pasar keuangan global yang mulai lebih kondusif turut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.

Aliran Modal Asing Jadi Faktor Utama

Bank Indonesia menyebut masuknya investasi asing ke dalam negeri terjadi melalui beberapa instrumen keuangan, antara lain:

  • Surat Berharga Negara (SBN).
  • Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
  • Instrumen investasi berbasis rupiah lainnya.

Peningkatan imbal hasil pada sejumlah instrumen tersebut dinilai mampu menarik minat investor global. Karena itu, permintaan terhadap aset berdenominasi rupiah meningkat sehingga ikut menopang penguatan nilai tukar.

Selain memberikan dampak terhadap kurs rupiah, arus modal asing juga membantu menjaga likuiditas pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut dinilai penting untuk mendukung stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Namun, BI tetap mengingatkan bahwa perkembangan ekonomi internasional masih perlu dicermati. Perubahan kebijakan bank sentral negara maju maupun kondisi geopolitik dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan dunia.

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Dalam kesempatan yang sama, Bank Indonesia memastikan suku bunga acuan atau BI Rate tetap berada di level 5,75 persen.

Keputusan mempertahankan suku bunga dilakukan setelah mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Selain mempertahankan BI Rate, bank sentral juga menjalankan berbagai kebijakan pendukung untuk memperkuat aliran investasi asing ke Indonesia. Strategi tersebut dilakukan agar stabilitas pasar tetap terjaga dalam jangka menengah maupun panjang.

Meskipun begitu, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan ekonomi global sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya.

Intervensi Valuta Asing Terus Dilakukan

Untuk menjaga kestabilan rupiah, Bank Indonesia juga melanjutkan kebijakan intervensi di pasar valuta asing.

Intervensi dilakukan baik di pasar domestik maupun pasar luar negeri. Langkah ini bertujuan mengurangi gejolak nilai tukar yang berpotensi muncul akibat perubahan sentimen pasar global.

Selain itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan di sektor keuangan. Sinergi tersebut dinilai penting agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.

Ke depan, Bank Indonesia berharap penguatan rupiah dapat terus berlanjut seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketidakpastian global masih menjadi tantangan bagi seluruh negara.

Dengan kombinasi kebijakan suku bunga, penguatan arus investasi asing, serta intervensi di pasar valuta asing, BI optimistis nilai tukar rupiah memiliki fondasi yang lebih kuat. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Penulis :

jaya purnama

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu